Presiden Prabowo Subianto memanggil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada Senin, 2 Maret 2026, untuk membahas secara mendalam dampak eskalasi ketegangan geopolitik di Iran terhadap pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional. Pertemuan ini menjadi krusial menyusul perkembangan terkini di Timur Tengah yang berpotensi mengguncang pasar energi global.
Dalam kesempatan tersebut, Bahlil Lahadalia memastikan bahwa ketahanan pasokan BBM nasional saat ini masih dalam kondisi aman, dengan cadangan yang cukup untuk 20 hari. “Masih cukup 20 hari,” ujar Bahlil singkat, ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026). Pernyataan ini disampaikan di tengah kekhawatiran global setelah Iran dilaporkan secara de facto mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz pasca serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Selat Hormuz merupakan jalur laut vital yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia, atau setara 17–21 juta barel per hari. Gangguan di selat ini berpotensi memicu lonjakan harga minyak global secara drastis. Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, pada hari yang sama, memprediksi bahwa serangan AS dan Israel ke Iran dapat menyebabkan harga minyak dunia naik dan kelangkaan BBM di Indonesia. Bahkan, jika harga minyak bertahan di atas US$100 per barel, harga Pertalite bisa menembus Rp 15.000–Rp 18.000 per liter, serta berdampak pada Solar subsidi melalui tekanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Indonesia, sebagai negara net importir minyak yang memenuhi sekitar 60-70% kebutuhan dari impor, dengan rata-rata impor 1 juta barel per hari, sangat rentan terhadap gejolak pasar global. Konflik yang memanas di Timur Tengah, termasuk kabar tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei pada 1 Maret 2026, semakin menambah ketidakpastian.
Menanggapi situasi ini, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tengah mencermati dinamika pasar migas global. “Mungkin menyangkut dengan kondisi terkini geopolitik, menyangkut dengan penutupan Selat Hormuz, Iran. Karena ini kita antisipasi tentang pasokan minyak dunia, karena bagaimanapun kita masih melakukan impor 1 juta barrel per day,” jelas Bahlil.
Sebagai langkah antisipasi, Bahlil berencana segera mengadakan rapat koordinasi dengan jajarannya di Kementerian ESDM bersama dengan Dewan Energi Nasional (DEN). Pemerintah juga tengah mempertimbangkan percepatan impor migas dari Amerika Serikat sebagai bagian dari kesepakatan dagang atau Agreement on Reciprocal Trade (ART) senilai 15 miliar dolar AS yang telah ditandatangani pada Februari 2026.
Sebelumnya, pada 31 Januari 2026, Presiden Prabowo Subianto telah menekankan pentingnya penguatan kedaulatan dan ketahanan energi nasional, termasuk dengan meningkatkan cadangan BBM dari sekitar 21 hari menjadi tiga bulan. Upaya ini menjadi strategi jangka panjang untuk melindungi kepentingan nasional dari ketidakpastian global.