Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memastikan komitmen Indonesia untuk mengirimkan pasukan penjaga perdamaian ke Jalur Gaza, Palestina, dengan jadwal keberangkatan kelompok awal pada Maret atau April 2026. Indonesia juga dipercaya untuk menduduki posisi Wakil Komandan dalam struktur International Stabilization Force (ISF) yang akan bertugas di wilayah konflik tersebut.
Pernyataan ini disampaikan Presiden Prabowo dalam Konferensi Tingkat Tinggi Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) di Washington DC, Amerika Serikat, pada Kamis, 19 Februari 2026 waktu setempat. Ia menegaskan kesiapan Indonesia untuk menyumbangkan sejumlah besar pasukan, mencapai 8.000 personel atau bahkan lebih jika diperlukan, sebagai bagian dari upaya stabilisasi dan bantuan kemanusiaan.
Secara terpisah, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Donny Pramono mengonfirmasi bahwa sekitar 1.000 personel ditargetkan sudah dalam kondisi siap berangkat pada awal April 2026 sebagai tim pendahulu. Sementara itu, seluruh elemen dari total 8.000 personel yang disiapkan ditargetkan siap diberangkatkan paling lambat akhir Juni 2026. Donny menjelaskan, status “siap berangkat” berarti personel telah memenuhi semua persyaratan dan dapat diberangkatkan sewaktu-waktu, namun jadwal final tetap menunggu keputusan politik negara dan mekanisme internasional yang berlaku.
Misi perdamaian ini merupakan bagian dari International Stabilization Force (ISF) yang dibentuk di bawah kerangka Board of Peace (BoP), sebuah inisiatif yang didukung Amerika Serikat dan telah disetujui Dewan Keamanan PBB melalui Resolusi 2803 pada November 2025. Tujuan utama ISF adalah menstabilkan lingkungan keamanan, memberikan bantuan kemanusiaan, serta mendukung rekonstruksi di Gaza. Indonesia juga menegaskan bahwa misi ini bersifat non-tempur dan kemanusiaan, serta memerlukan persetujuan dari Otoritas Palestina.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo menyatakan optimisme terhadap perkembangan upaya kemanusiaan di Gaza, mengklaim bahwa aliran bantuan makanan dan kebutuhan dasar saat ini berada pada tingkat tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Namun, Menteri Luar Negeri Sugiono sebelumnya menyampaikan bahwa situasi kemanusiaan di Gaza masih sangat memprihatinkan, dengan infrastruktur dasar yang hancur dan terus bertambahnya korban jiwa, bahkan setelah gencatan senjata berlaku.
Prabowo mengakui bahwa upaya mencapai perdamaian akan menghadapi banyak kesulitan, hambatan, dan rintangan di depan. Meski demikian, Indonesia bertekad untuk mencapai keberhasilan demi rakyat Palestina dan mendorong solusi dua negara sebagai satu-satunya jalan menuju perdamaian jangka panjang. Selain Indonesia, sejumlah negara lain seperti Kazakhstan, Maroko, Kosovo, Mesir, dan Yordania juga menyatakan kesiapan untuk bergabung dalam ISF.