Prabowo: Polisi Jadi Sasaran Adalah Risiko, Anggap Saja ‘Bulan-bulanan’ untuk Bangsa

Author Image

Irfan

13 Februari 2026

Foto: Presiden Prabowo Subianto (dok. Youtube Setpres)
Foto: Presiden Prabowo Subianto (dok. YouTube Setpres)

Presiden Prabowo Subianto meminta Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) untuk tabah menghadapi berbagai kritik dan tudingan yang kerap ditujukan kepada institusi tersebut. Menurutnya, menjadi sasaran dalam berbagai persoalan merupakan bagian dari risiko pekerjaan.

“Saya tahu saudara-saudara, polisi banyak jadi sasaran, itu risiko, TNI juga dulu jadi sasaran, jenderal-jenderal yang paling hebat, paling jago dimaki-maki, dituduh penjahat perang, dituduh melanggar HAM,” ujar Prabowo saat memberikan sambutan pada acara peresmian SPPG dan Gudang Ketahanan Pangan Polri di Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (13/2/2026).

Prabowo kemudian membandingkan dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). “Rasanya TNI nggak pernah ngebom rumah sakit, selama sejarahnya TNI. Rasanya TNI nggak pernah bom panti asuhan, rasanya TNI nggak pernah bom sekolah, nggak pernah bom gereja atau masjid,” imbuhnya.

Ia juga menyinggung negara-negara Barat yang kerap mengajarkan tentang hak asasi manusia (HAM). Prabowo menggunakan istilah “ngejarkoni, iso ngajar, ora iso ngelakoni” yang berarti bisa mengajar tetapi tidak bisa melakukan.

“Negara-negara barat yang ngajarin HAM kepada kita… saya nggak mau banyak komentar lagi lah, Anda tahu maksud saya, jadi, banyak kalau istilah dulu kita ngejarkoni, iso ngajar, ora iso ngelakoni, mereka ngajarin kita,” katanya.

Lebih lanjut, Prabowo kembali menekankan pentingnya ketabahan bagi Polri. “Dulu TNI yang selalu diserang bulan-bulanan, ya polisi, ya tabah lah kau juga jadi sasaran bulan bulanan, nggak papa, ya kan, itu risiko, yang penting niat baik, pengorbanan untuk bangsa dan negara,” ucapnya.

Menyinggung soal kesalahan individu dalam institusi, Prabowo berpendapat bahwa institusi tidak seharusnya ditutup. Sebaliknya, individu yang bersalahlah yang harus ditindak.

“Kalau ada dalam institusi ratusan ribu orang kalau ada nggak bener ya tindak, saya ibaratkan kalau ada sekolah muridnya ada yang brengsek, ada yang tawuran, ada yang kurang ajar, muridnya, bukan kepala sekolahnya yang dicopot, keliru itu, bukan terbalik, bukan sekolahnya ditutup, tapi nggak papa ini risiko seorang pemimpin,” jelasnya.

Prabowo berpesan agar pimpinan Polri senantiasa bertahan dan bersabar. Ia menilai bahwa Polri saat ini telah memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat.

“Kau dikasih bintang di sini (pundak kanan dan kiri), untuk tahan, tahan banting, tahan maki-maki, tahan serangan, apalagi serangannya di sosmed ya kan, sosmed itu banyak buzzer, jadi kita harus tegar. Yang jelas kita buktikan kepada rakyat, hari ini saya harus mengatakan bahwa saya bangga, dan puas dengan prestasi ini,” pungkasnya.