Presiden Prabowo Subianto menyinggung pengalamannya yang pernah kalah sebanyak tiga kali dalam pemilihan presiden (Pilpres) saat menghadiri acara Natal Nasional 2025. Dalam kesempatan tersebut, Prabowo berkelakar bahwa kekalahannya itu disebabkan oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan yang tidak mendukungnya.
Tepis Isu Program Makan Bergizi Gratis
Awalnya, Prabowo menepis tuduhan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagasnya merupakan strategi untuk Pilpres 2029. Ia kemudian mempertanyakan apa yang salah jika rakyat kembali memilihnya di masa mendatang.
“Tapi kalau rakyat milih saya tahun 2029 apa salah saya? Iya kan? Kalau Tuhan mengizinkan. Kalau Tuhan tidak mengizinkan saya buat apa saja tidak akan terjadi, bener nggak?” ujar Prabowo.
Kekalahan Pilpres dan Peran Luhut
Prabowo lalu kembali membahas soal kekalahannya dalam tiga kali Pilpres. Ia melontarkan candaan bahwa penyebabnya adalah Luhut Binsar Pandjaitan yang tidak memberikan dukungan. Luhut sendiri tampak hadir dalam acara tersebut.
“Empat kali ikut pemilu, tiga kali kalah. Soalnya waktu itu Pak Luhut nggak dukung saya sih,” ucapnya disambut tawa hadirin.
Ajaran Nasrani dalam Politik
Sebelumnya, Prabowo mengutip ajaran Nasrani dari Alkitab, Matius 5:39, yang berbunyi “Ditampar pipi kiri, berikan pipi kanan”. Ia menyerukan agar semua pihak mengedepankan persatuan daripada perpecahan.
“Ajaran nasrani, kalau ditempeleng pipi kiri, harus kasih pipi kanan. Harus memaafkan, kan begitu kan. Forgive those that trespass against us, bener nggak?” katanya.
“Forgive us, our trespassers as we forgive those that trespass against us. Jadi saya, sebenarnya ya, bagi saya itu selalu ingin cari kebaikan daripada ketidakbaikan. Saya ingin cari persatuan daripada perpecahan,” imbuh Prabowo.
Pentingnya Persatuan dan Memaafkan
Prabowo menekankan bahwa persaingan dalam dunia politik memang kerap kali keras. Namun, rasa persatuan harus selalu menjadi prioritas utama. Ia mencontohkan pengalamannya sendiri yang kalah dalam tiga kali Pilpres, namun tidak menyimpan rasa dendam.
“Aku kalah pilpres beberapa kali itu, udah lupa. Tapi tidak ada masalah. Tidak boleh kita sakit hati. Tidak boleh dendam. Tidak boleh benci. Dan itu saya, saya berusaha untuk teguh pada pendirian itu,” tegasnya.






