Prabowo-Trump Teken Kesepakatan Dagang, RI Komitmen Impor Energi US$15 Miliar dari AS

Author Image

Hodak

21 Februari 2026

prabowo, trump, teken, indonesia, miliar

Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) secara resmi meneken Perjanjian Perdagangan Timbal Balik (Agreement on Reciprocal Trade/ART) pada Kamis, 19 Februari 2026, di Washington D.C.. Penandatanganan dokumen penting bertajuk “Implementation of the Agreement toward New Golden Age US-Indonesia Alliance” ini dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump.

Sebagai bagian integral dari kesepakatan tersebut, Indonesia berkomitmen untuk mengimpor komoditas energi dari AS senilai US$15 miliar atau sekitar Rp253,2 triliun hingga Rp253,47 triliun per tahun, tergantung kurs yang berlaku. Komitmen impor ini mencakup Liquefied Petroleum Gas (LPG) senilai US$3,5 miliar, minyak mentah (crude oil) sebesar US$4,5 miliar, dan bensin olahan atau Bahan Bakar Minyak (BBM) senilai US$7 miliar.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer turut menandatangani ART ini. Airlangga menegaskan bahwa kesepakatan tersebut merupakan solusi yang saling menguntungkan dan menghormati kedaulatan kedua negara. “Kesepakatan ini menghormati kedaulatan kedua negara,” ujar Airlangga dari Washington. Ia menambahkan, “Penyelesaian ART menunjukkan komitmen Indonesia menciptakan lingkungan usaha yang semakin terbuka dan ramah investasi”.

Fasilitasi Impor dan Penyeimbangan Neraca Dagang

Dokumen yang dirilis Gedung Putih secara eksplisit menyatakan bahwa Indonesia diwajibkan untuk mempermudah dan memfasilitasi badan usaha milik negara (BUMN) serta sektor swasta dalam meningkatkan pembelian energi dari AS. Fasilitasi ini mencakup pemberian seluruh persetujuan, keputusan, dan perizinan pemerintah yang diperlukan, termasuk untuk kontrak jangka panjang.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa impor energi senilai US$15 miliar ini bukan berarti peningkatan volume impor secara keseluruhan, melainkan pergeseran sumber pasokan. “Untuk memberikan keseimbangan neraca perdagangan (Indonesia-AS) dari sektor ESDM akan membelanjakan kurang lebih sekitar US$15 miliar,” ungkap Bahlil. Ia menambahkan bahwa pemerintah akan mengurangi porsi impor migas dari negara-negara di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika.

Kesepakatan ini merupakan upaya strategis untuk menyeimbangkan neraca perdagangan bilateral. Amerika Serikat tercatat memiliki defisit perdagangan barang terbesar ke-15 dengan Indonesia, dengan total defisit mencapai US$23,7 miliar pada tahun 2025. Sebagai timbal balik, AS menyetujui penurunan tarif atas ekspor Indonesia menjadi 19% dari sebelumnya 32%. Beberapa komoditas unggulan Indonesia seperti minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, dan komponen elektronik akan menikmati tarif 0%.

Tahapan Implementasi dan Dukungan Kebijakan

Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa Indonesia akan mulai mengeksekusi impor komoditas migas dari AS dalam waktu 90 hari setelah finalisasi kesepakatan perundingan tarif. “Begitu selesai 90 hari diimplementasikan, maka akan kita langsung jalankan. Supaya apa, ini membangun trust antara kedua belah pihak,” kata Bahlil. Langkah ini, menurutnya, juga sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan kepastian bagi pelaku usaha AS.

Pemerintah tengah menyiapkan payung hukum setingkat Peraturan Presiden (Perpres) untuk menugaskan PT Pertamina (Persero) dalam melaksanakan impor migas dari AS ini, yang rencananya dapat dilakukan tanpa melalui proses lelang atau bidding. Perpres tersebut saat ini sedang dievaluasi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait penilaian risikonya.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan kepuasan kedua pemimpin atas langkah cepat dan berkelanjutan yang telah diambil. “Kedua pemimpin menyampaikan kepuasan atas langkah-langkah cepat dan berkelanjutan yang telah dilakukan oleh kedua negara, serta menegaskan komitmen kuat untuk mengimplementasikan kesepakatan besar tersebut,” ujar Teddy. Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya stabilitas, kepastian, dan konsistensi kebijakan guna menjaga kepercayaan investor.

Selain sektor energi, kesepakatan komersial yang lebih luas antara Indonesia dan AS mencapai US$33 miliar, meliputi pembelian pesawat komersial dari Boeing senilai US$13,5 miliar dan produk pertanian AS senilai US$4,5 miliar. Perusahaan tambang emas asal AS, Freeport-McMoRan, juga memperpanjang izin tambangnya di Indonesia hingga 2061 dengan tambahan investasi sebesar US$20 miliar.