Prabowo Tuntut Danantara Capai ROA 7 Persen, Rosan Roeslani Nyatakan Siap

Author Image

Hodak

21 Februari 2026

danantara, prabowo subianto, rosan perkasa roeslani, return on assets, indonesia economic outlook 2026

Presiden Republik Indonesia, , secara tegas menuntut Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk mencapai target imbal hasil aset atau (ROA) sebesar 7 persen. Tantangan ini disampaikan langsung kepada CEO Danantara, , dalam forum yang berlangsung pada Jumat, 13 Februari 2026, di Wisma Danantara, Jakarta.

Dalam pidatonya, Presiden Prabowo menyoroti kinerja awal Danantara yang dinilai luar biasa, bahkan telah mencatatkan hasil empat kali lipat lebih baik dibandingkan tahun 2024 melalui efisiensi dan reformasi, meskipun lembaga ini baru efektif beroperasi kurang dari setahun sejak dibentuk pada Februari 2025. Namun, ia menekankan bahwa capaian tersebut belum cukup dan menuntut peningkatan kinerja yang lebih tinggi.

Merespons tuntutan tersebut, Rosan Perkasa Roeslani awalnya hanya tersenyum, memicu Prabowo untuk kembali menegaskan kesanggupannya. Setelah desakan kedua, Rosan dengan mantap menyatakan “Siap”.

Strategi Danantara Kejar Target ROA 7 Persen

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, menjelaskan bahwa target ROA 7 persen yang ditetapkan Presiden Prabowo akan menjadi acuan baru dan mendorong Danantara untuk lebih selektif dalam memilih proyek investasi. “Dengan adanya ekspektasi lebih tinggi, juga kita akan fokus kepada proyek-proyek yang lebih higher return dengan impact yang sama. Kita juga akan sekarang barrier-nya akan lebih tinggi lagi, standar-standarnya dinaikin,” ujar Pandu.

Danantara berencana mengalokasikan sekitar 50 persen dananya ke instrumen investasi yang bersifat public-like investment, baik melalui obligasi maupun saham publik. Untuk investasi di pasar saham, Danantara akan memprioritaskan perusahaan dengan fundamental yang kuat, valuasi yang terjaga, serta likuiditas tinggi.

Pandangan Analis dan Konteks Keuangan

Pengamat NEXT Indonesia Center, Herry Gunawan, menilai target ROA 7 persen ini realistis jika Danantara mampu melakukan perbaikan secara konsisten, terutama dalam efisiensi aset dan ekspansi, khususnya di BUMN perbankan dengan rasio kredit-DPK di bawah 90 persen. Namun, ia juga menyebut bahwa mencapai target tersebut dalam waktu dekat bukanlah perkara mudah. Herry menekankan pentingnya inovasi produk, pengelolaan risiko melalui risk appetite dan risk tolerance, serta kontrol biaya untuk mendorong profitabilitas dan menghindari stagnasi ROA di level rendah.

Dalam konteks yang lebih luas, pembentukan Danantara sebelumnya sempat menarik perhatian lembaga pemeringkat internasional Moody’s. Pada 5 Februari 2026, Moody’s merevisi outlook kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, sebagian karena ketidakpastian terkait pendanaan, tata kelola, dan prioritas investasi Danantara, mengingat lembaga ini mengelola aset BUMN yang melebihi 900 miliar dolar AS atau sekitar 60 persen dari PDB nominal pada tahun 2025.

Target Laba BUMN dan Rencana Investasi 2026

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menargetkan laba kolektif BUMN pada tahun 2026 dapat mencapai Rp340-350 triliun, meningkat dari estimasi Rp280-285 triliun pada tahun 2025 setelah penyesuaian penurunan nilai aset. Peningkatan target laba ini didukung oleh strategi Danantara untuk mengelola BUMN secara lebih efektif, efisien, dan profesional melalui penilaian fundamental komprehensif.

Untuk tahun 2026, Danantara berencana menginvestasikan hingga 14 miliar dolar AS, naik dari 8 miliar dolar AS pada tahun 2025, yang sebagian besar akan berasal dari dividen perusahaan-perusahaan yang dikelola. Prioritas investasi meliputi energi terbarukan, transisi energi, infrastruktur digital, layanan kesehatan, dan ketahanan pangan.

Danantara juga memiliki ambisi jangka panjang untuk melipatgandakan total aset kelolaannya (Asset Under Management/AUM) hingga tiga kali lipat pada tahun 2030, dari sekitar 900 miliar dolar AS pada Januari 2026. Salah satu strategi untuk mencapai target ini adalah melalui transformasi dan konsolidasi BUMN, dengan rencana merampingkan 1.068 entitas BUMN menjadi sekitar 221 entitas dalam 3-4 tahun ke depan.