Pramugari Olen Korban ATR 42-500 Akan Dimakamkan di Manado, Keluarga Berduka

Author Image

Irfan

22 Januari 2026

Keluarga Dari Pramugari Florencia Lolita Wibisono (foto: Rachma Indira/detikcom)
Keluarga dari pramugari Florencia Lolita Wibisono (Foto: Rachma Indira/detikcom)

Jenazah pramugari korban kecelakaan pesawat ATR 42-500, Florencia Lolita Wibisono alias Olen (33), akan dimakamkan di Tondano, Manado, Sulawesi Utara. Keluarga besar melepas kepergian Olen yang menjadi salah satu korban tewas dalam insiden tragis tersebut.

Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026) siang dalam penerbangan rute Yogyakarta-Makassar. Pesawat jatuh di Gunung Bulusaruang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Puing-puing pesawat ditemukan pada Minggu (18/1) di lereng gunung tersebut.

Pesawat tersebut diawaki oleh tujuh orang kru dan tiga penumpang. Hingga kini, enam korban telah ditemukan, sementara pencarian terus berlanjut.

Proses Identifikasi dan Penyerahan Jenazah

Setelah proses pencarian dan evakuasi, jenazah Olen berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada pihak keluarga pada Rabu (21/1/2026) di kantor Biddokes Polda Sulawesi Selatan, Makassar. Pihak maskapai IAT turut mendampingi keluarga dalam proses tersebut.

Pada hari yang sama, jenazah Olen diterbangkan dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar, menuju Jakarta. Setibanya di Jakarta, jenazah dibawa ke rumah duka di Grand Heaven Pluit, Jakarta Utara.

Pemakaman di Tanah Kelahiran

Kakak ipar Olen, Felix Agoes, menyatakan bahwa keluarga sepakat untuk memakamkan jenazah Olen di tanah kelahirannya, Tondano, Manado. Acara pemakaman dijadwalkan pada Sabtu (24/1/2026).

“Dimakamkannya di Tondano, di Manado. Karena memang Olen besarnya lama di sana. Jadi ada di Tondano,” kata Felix kepada wartawan di rumah duka, Kamis (22/1/2026).

Jenazah Olen diterbangkan ke Manado pada Kamis malam. Di sana, keluarga akan kembali mengadakan ibadah dan penghormatan terakhir sebelum pemakaman.

“Kami akan bawa nanti malam dengan kargo lagi untuk ke sana, dan kami beberapa keluarga juga mewakili untuk ada di sana besok,” ujar Felix. “Ada ibadah lagi sehingga hari Sabtu baru pemakamannya,” tambahnya.

Keluarga Terima Kabar Penemuan Jasad

Felix menceritakan kronologi penemuan jasad Olen. Pihak keluarga terlibat langsung dalam upaya pencarian di Makassar sejak Minggu (18/1).

“Jadi memang hari, kami sampai di Makassar itu hari Minggu. Di sana langsung difasilitasi sama IAT, perusahaan di mana Olen bekerja. Disiapkan semua segala sesuatu di sana. Terus dikasih kabar, dikasih update terus. Kami semua dibuatkan satu grup dan lain-lain,” ucap Felix.

Pada Senin (19/1), keluarga mengadakan doa bersama. Sekitar satu setengah jam setelah doa, Felix mendapat kabar penemuan jasad kedua berjenis kelamin perempuan. Meski belum teridentifikasi, keluarga meyakini jasad tersebut adalah Olen.

“Walaupun belum secara detail itu ciri-cirinya seperti apa, tapi mungkin batin ya, secara batin kami kayak merasa itu Olen. Dan kami menunggu semuanya,” ujarnya.

Namun, evakuasi jasad tersebut tertunda pada hari Senin karena kondisi cuaca buruk, medan yang terjal, dan kabut.

Pada Selasa (20/1), setelah dilakukan modifikasi cuaca, jasad perempuan tersebut berhasil dievakuasi melalui jalur darat dan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar untuk identifikasi. Kepastian bahwa jasad tersebut adalah Olen diterima keluarga pada Rabu pagi.

“Dan dikabarinnya kami baru keesokan paginya. Jadi hari keempat malam itu sampai di Bhayangkara Rumah Sakit. Paginya kami dapat kabar kepastian kalau itu Olen. Sehingga kami sekeluarga langsung ke sana. Ngadain penutupan peti dan lain-lain. Sehingga ada penyerahan dari Polda ke kami,” ucapnya.

Sosok Olen di Mata Keluarga

Kakak Olen, Natasya Wibisono, mengenang adiknya sebagai sosok yang ceria dan suka membantu orang.

“Adik aku itu sosok yang ceria. Dia suka bantu orang. Walaupun mungkin dia nggak ada, dia selalu usahakan untuk orang lain,” kata Natasya di Rumah Duka Grand Heaven Pluit, Jakarta Utara, Kamis (22/1/2026).

Natasya berterima kasih atas doa dan dukungan yang diberikan. Ia mengaku masih berupaya belajar ikhlas atas kepergian adiknya.

“Walaupun sampai dia nggak ada, saya masih nggak percaya. Tapi belajar untuk terima, ikhlas. Banyak komen yang masuk yang mungkin saya nggak bisa lihat satu-satu. Cuma sekilas-sekilas. Tapi semua orang bilang dia adalah sosok yang baik,” ujarnya.

Natasya menambahkan bahwa Olen bahagia saat memulai karier di maskapai baru, Indonesia Air Transport, sekitar tiga bulan sebelum kecelakaan. Olen sering bercerita tentang kebahagiaannya bertemu dengan orang-orang baik di tempat kerjanya.

“Mungkin dia baru pindah tiga bulan belakangan di Indonesia Air Transport. Tapi hampir setiap hari hubungi saya. Dia cerita, gimana dia happy di sana. Ketemu banyak orang baik,” imbuhnya.