Presiden Israel Herzog Tegaskan Dukungan untuk Ukraina di Tengah Empat Tahun Invasi Rusia

Presiden Israel Isaac Herzog melakukan panggilan telepon dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada Kamis, 26 Februari 2026, menandai empat tahun invasi Rusia ke Ukraina. Dalam percakapan tersebut, Herzog menyampaikan belasungkawa mendalam dan solidaritas kepada rakyat Ukraina yang terus menghadapi dampak konflik berkepanjangan.

Kantor Presiden Israel menyatakan bahwa Herzog menyampaikan keprihatinan atas nasib Ukraina dan mendoakan kesembuhan bagi mereka yang terluka secara fisik maupun spiritual akibat perang. Kedua pemimpin juga membahas upaya internasional yang signifikan, yang dipimpin oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, untuk mengakhiri perang dan penderitaan serta hilangnya nyawa yang mengerikan.

Dalam kesempatan itu, Herzog menekankan kembali dukungan Israel untuk Ukraina dalam pemungutan suara terbaru di Majelis Umum PBB. Pada 24 Februari 2026, Israel memberikan suara mendukung resolusi yang menegaskan kedaulatan, kemerdekaan, persatuan, dan integritas wilayah Ukraina dalam batas-batas yang diakui secara internasional. Langkah ini menjadi pengecualian langka dari Amerika Serikat, sekutu terdekat Israel di PBB, yang memilih abstain dalam pemungutan suara tersebut.

Selain dukungan diplomatik, Herzog juga menyoroti upaya berkelanjutan Israel dalam menyediakan bantuan kemanusiaan kepada mereka yang terdampak perang. Baru-baru ini, Kementerian Luar Negeri Israel menyumbangkan lebih dari 100 generator ke Ukraina, yang telah disalurkan ke wilayah Kyiv untuk membantu mengatasi krisis energi.

Presiden Zelensky, dari pihaknya, menyampaikan terima kasih kepada Israel atas solidaritasnya dengan Ukraina dan atas dukungan terhadap resolusi Majelis Umum PBB. Zelensky juga mencatat langkah Israel dalam memberlakukan sanksi terhadap rezim Iran, yang diketahui telah memasok drone ‘Shahed’ kepada Rusia untuk digunakan dalam serangan terhadap Ukraina.

Invasi Rusia ke Ukraina, yang dimulai pada 24 Februari 2022, telah menyebabkan ratusan ribu orang dari kedua negara meninggal dunia. Meskipun Israel telah menunjukkan dukungan kemanusiaan dan diplomatik, negara tersebut secara umum menahan diri untuk tidak memasok senjata ke Ukraina. Kebijakan ini diambil untuk menjaga hubungan yang kompleks dengan Moskow, terutama terkait dengan kebebasan operasi Israel di Suriah.