Presiden Israel Isaac Herzog Tegaskan Kembali Dukungan untuk Ukraina di Tengah Tantangan Geopolitik

Presiden kembali melakukan panggilan telepon dengan Presiden pada Kamis, 26 Februari 2026, untuk menyampaikan keprihatinan mendalam dan solidaritas atas invasi Rusia yang kini telah memasuki tahun keempat. Dalam percakapan tersebut, Herzog menegaskan dukungan Israel terhadap kedaulatan Ukraina dan menggarisbawahi upaya berkelanjutan dalam memberikan bantuan kemanusiaan.

Solidaritas dan Bantuan Kemanusiaan

Kantor Kepresidenan Israel merilis pernyataan yang menyebutkan bahwa Presiden Herzog menyampaikan belasungkawa terdalam kepada Presiden Zelensky dan seluruh rakyat Ukraina atas jatuhnya korban jiwa yang dahsyat. Ia juga mendoakan kesembuhan bagi mereka yang terluka secara fisik dan spiritual akibat konflik berkepanjangan.

Herzog juga menyoroti dukungan Israel dalam pemungutan suara di Majelis Umum PBB baru-baru ini, yang mengesahkan resolusi untuk perdamaian abadi di Ukraina. Selain itu, Israel terus berkomitmen pada upaya bantuan kemanusiaan. Pada Rabu, 25 Februari 2026, Kementerian Luar Negeri Israel menyumbangkan lebih dari 100 generator ke Ukraina, yang kemudian disalurkan ke wilayah Kyiv. Bantuan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Israel yang telah berlangsung sejak invasi dimulai pada Februari 2022.

Upaya Diplomatik dan Tantangan Geopolitik

Dalam pembicaraan telepon tersebut, kedua pemimpin juga membahas upaya internasional signifikan yang dipimpin oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang dan mengurangi penderitaan serta hilangnya nyawa.

Hubungan antara Israel dan Ukraina terus berkembang di tengah kompleksitas geopolitik. Pada awal Februari 2026, Ukraina dan Israel sepakat untuk meluncurkan dialog strategis mengenai isu-isu keamanan dan memperdalam kerja sama politik. Duta Besar Ukraina untuk Israel, Yevhen Korniychuk, menekankan bahwa Ukraina dan Israel menghadapi ancaman eksistensial serupa. Korniychuk menyatakan, “Bagi Ukraina, Rusia adalah apa Hamas bagi Israel—kekuatan agresif yang berusaha merusak keberadaan negara berdaulat, sengaja menargetkan warga sipil, dan melancarkan perang tanpa batas terhadap masyarakat bebas.”

Meskipun demikian, Israel menghadapi tantangan dalam memberikan bantuan militer secara langsung kepada Ukraina. Israel harus menyeimbangkan dukungannya terhadap Ukraina dengan kepentingannya sendiri, terutama terkait keamanan di wilayahnya dan hubungan dengan Rusia, yang memiliki pengaruh signifikan di Suriah. Pada Januari 2025, Israel dilaporkan mengirimkan rudal Patriot buatan AS ke Ukraina, yang disebut sebagai sumbangan paling signifikan sejak konflik dimulai, namun Yerusalem Barat menegaskan bahwa itu adalah pengembalian sistem Patriot ke AS, bukan pasokan senjata langsung ke Ukraina.

Pada Juli 2025, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar mengunjungi Kyiv dan mengumumkan peluncuran dialog strategis Israel-Ukraina mengenai ancaman Iran, mengingat Rusia menggunakan drone Iran dalam perangnya melawan Ukraina. Ini menunjukkan adanya kesamaan musuh yang dihadapi kedua negara.

Di sisi lain, Israel juga menghadapi kritik dari Ukraina karena keengganannya untuk bergabung dengan sanksi terhadap Rusia. Namun, Presiden Herzog dalam pesan video pada November 2024, menandai 1000 hari perang, menegaskan bahwa Israel mengidentifikasi diri dengan perjuangan Ukraina dan penderitaannya, serta mendukung integritas teritorial Ukraina.