Presiden Trump Kunjungi China Akhir Maret, Kebijakan Tarif dan Taiwan Jadi Agenda Utama

Author Image

Hodak

21 Februari 2026

donald trump, xi jinping, china, amerika serikat, perang dagang

Presiden (AS) dijadwalkan akan melakukan kunjungan resmi ke mulai 31 Maret hingga 2 April 2026 untuk bertemu dengan Presiden China . Kunjungan ini menjadi sorotan global, terutama karena berlangsung di tengah dinamika baru terkait kebijakan tarif AS dan ketegangan geopolitik di kawasan.

Seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi rencana perjalanan tersebut pada Jumat (20/2/2026), hanya beberapa jam setelah Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian besar tarif impor luas yang sebelumnya diberlakukan oleh Trump. Putusan pengadilan tersebut menyatakan bahwa Trump melampaui wewenangnya dalam menggunakan Undang-Undang Kekuasaan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA) untuk mengenakan tarif, termasuk 20% pada impor China.

Meskipun demikian, Presiden Trump segera menyatakan akan memberlakukan tarif global baru sebesar 10% selama 150 hari ke depan, meskipun bea masuk lain terhadap barang-barang China, seperti tarif Pasal 301 dan Pasal 232, tetap berlaku. Keputusan ini menimbulkan ketidakpastian baru bagi mitra dagang AS di Asia, termasuk China, Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan.

Agenda Krusial di Beijing

Pertemuan puncak antara Trump dan Xi di Beijing diperkirakan akan berfokus pada upaya memperpanjang gencatan senjata perdagangan yang selama ini menahan kedua negara dari eskalasi tarif lebih lanjut. Hubungan dagang Washington-Beijing sempat menunjukkan tanda-tanda pelonggaran setelah Trump memangkas sebagian tarif terhadap produk China.

Sebagai imbalannya, Beijing telah mengambil langkah-langkah seperti menindak perdagangan fentanil ilegal dan menangguhkan pembatasan ekspor mineral penting. Trump juga menyebut bahwa Presiden Xi akan mempertimbangkan peningkatan pembelian kedelai dari AS, mengingat China adalah konsumen kedelai terbesar di dunia dan petani AS merupakan basis politik penting bagi Trump.

Isu Taiwan dan Geopolitik Global

Selain perdagangan, isu Taiwan dipastikan menjadi topik sensitif dalam pertemuan tersebut. Presiden Xi Jinping, dalam panggilan telepon dengan Trump awal bulan ini, menekankan bahwa Taiwan adalah “masalah paling penting” dalam hubungan Sino-AS. Washington sendiri telah menyetujui penjualan senjata terbesar sepanjang sejarah kepada Taiwan senilai 11,1 miliar dolar AS pada Desember lalu.

Meskipun Trump sebelumnya menghindari komitmen langsung terhadap pertahanan Taiwan, ia pernah menyatakan keyakinannya bahwa China tidak akan mencoba merebut Taiwan selama ia menjabat sebagai presiden. Kunjungan ini juga akan membahas isu-isu global lainnya, seperti ambisi nuklir Iran dan perang yang berkepanjangan di Ukraina.

Latar Belakang dan Harapan

Kunjungan ini akan menjadi perjalanan pertama Trump ke China sejak ia kembali menjabat sebagai presiden pada Januari tahun lalu, dan kunjungan pertamanya ke negara tersebut sejak November 2017. Sebelumnya, Trump dan Xi Jinping telah bertemu di Korea Selatan pada akhir Oktober 2025, di mana mereka menyepakati gencatan senjata perdagangan selama satu tahun.

Presiden Trump menggambarkan kunjungan mendatang ini sebagai “sesuatu yang luar biasa” dan menyatakan, “Kita harus menampilkan pertunjukan terbesar yang pernah ada dalam sejarah China.” Sebagai balasan atas kunjungan ini, Trump juga berencana untuk menjamu Xi Jinping di Amerika Serikat menjelang akhir tahun 2026.

Hingga saat ini, Kedutaan Besar China di Washington belum secara resmi mengonfirmasi tanggal kunjungan tersebut, dan Beijing belum memberikan komentar resmi mengenai putusan Mahkamah Agung AS, karena sedang dalam masa liburan panjang. Namun, seorang pejabat keuangan senior di Hong Kong menyebut situasi di AS sebagai “kekacauan” pasca-putusan tersebut.