Produksi Energi Terbarukan AS Capai Rekor Baru di Tengah Dinamika Kebijakan Trump

Author Image

Hodak

27 Februari 2026

donald trump, energi terbarukan, amerika serikat, kebijakan energi, pembangkit listrik

Sektor di menunjukkan ketahanan luar biasa dengan mencatatkan rekor produksi tertinggi sepanjang sejarah pada tahun 2025. Pencapaian ini terjadi di tengah gejolak politik dan upaya mantan Presiden untuk menghambat pengembangan energi hijau.

Data federal yang dirilis baru-baru ini mengungkapkan bahwa sekitar 1.162 terawatt-hour (TWh) listrik dihasilkan dari sumber terbarukan di AS sepanjang tahun 2025. Angka ini menandai peningkatan signifikan sebesar 10% dibandingkan tahun sebelumnya. Kontribusi energi terbarukan kini mencapai 26% dari total produksi listrik nasional, jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 108 juta rumah tangga di AS selama setahun penuh. Bahkan, pada beberapa bulan seperti Maret 2025, energi terbarukan mampu menyumbang hampir sepertiga dari seluruh listrik yang dihasilkan negara tersebut.

Peran Dominan Surya dan Angin

Peningkatan ini didorong oleh pertumbuhan pesat energi surya dan angin. Energi surya, khususnya, memainkan peran krusial dengan memenuhi 61% dari peningkatan permintaan listrik AS pada tahun 2025. Pembangkit surya dan angin skala kecil terus beroperasi, bahkan di negara bagian yang secara tradisional dikuasai Partai Republik, seperti Texas dan Iowa, yang ironisnya memiliki potensi besar untuk tenaga bayu (PLTB).

Bayang-bayang Kebijakan Trump

Capaian rekor ini menjadi lebih menonjol mengingat sikap dan kebijakan Donald Trump yang secara konsisten menentang energi terbarukan. Selama masa kepresidenannya sebelumnya, Trump memangkas insentif untuk energi angin dan surya, serta melemahkan regulasi udara bersih demi mendukung industri bahan bakar fosil. Ia juga menarik AS dari Perjanjian Iklim Paris, yang secara resmi berlaku efektif pada 27 Januari 2026.

Jika kembali menjabat, Trump diperkirakan akan melanjutkan kebijakan serupa, bahkan berjanji untuk melarang pembangunan kincir angin baru, menyebutnya sebagai ‘sampah’ yang mengotori negara. Selain itu, ia telah mengumumkan niat untuk menghentikan program transisi energi bersih dan meningkatkan produksi minyak, bahkan dengan mendeklarasikan ‘keadaan darurat energi nasional’ untuk mencabut regulasi industri. Pemerintahan Trump juga pernah memperketat kredit pajak energi bersih, membatasi penggunaan material dan komponen asing, terutama dari Tiongkok, dalam proyek energi terbarukan.

Ketahanan Pasar di Balik Tantangan Politik

Meskipun demikian, pertumbuhan energi terbarukan terus berlanjut. Patrick Finn, analis utama Wood Mackenzie, menyoroti fenomena ini. “Energi terbarukan terus tumbuh, meski berita utama saat ini menunjukkan gas alam sebagai rajanya,” ujar Finn. “Meski ada banyak hambatan bagi energi terbarukan yang berasal dari Washington DC, kita baru saja melewati empat tahun di mana tidak banyak hambatan.” Ketahanan ini sebagian besar didorong oleh daya saing ekonomi energi terbarukan yang semakin meningkat serta inisiatif di tingkat negara bagian dan pasar.

Prospek Masa Depan

Administrasi Biden-Harris, sebagai kontras, telah secara aktif mendorong pengembangan energi bersih, bahkan melampaui target izin proyek energi bersih sebesar 25 gigawatt pada tahun 2025. Mereka menargetkan sektor listrik bebas polusi karbon pada tahun 2035.

Melihat ke depan, proyeksi untuk tahun 2026 menunjukkan bahwa 99% dari penambahan kapasitas listrik baru di AS akan berasal dari sumber terbarukan seperti surya, angin, dan baterai, melampaui bahan bakar fosil. Namun, Badan Energi Internasional (IEA) pada Oktober 2025 memangkas perkiraan pertumbuhan kapasitas energi terbarukan AS hingga 2030 hampir 50% dari proyeksi sebelumnya, mengaitkannya dengan potensi pencabutan insentif pajak federal dan perubahan regulasi di bawah pemerintahan Trump. IEA kini memperkirakan AS akan menambah sekitar 250 gigawatt kapasitas terbarukan baru pada tahun 2030. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun momentum pertumbuhan tahunan kuat, arah kebijakan jangka panjang tetap menjadi faktor penentu bagi laju transisi energi di Amerika Serikat.