Produksi Minyak Serpih AS Melambat, Perusahaan Fracking Buru Pasar Ekspor Global

Author Image

Hodak

26 Februari 2026

minyak serpih as, fracking, industri migas, ekspor peralatan, pasar energi global

Industri pengeboran hidrolik atau di Amerika Serikat (AS) kini mengalihkan fokusnya ke pasar internasional. Langkah ini diambil menyusul perlambatan pertumbuhan produksi minyak serpih (shale oil) di ladang-ladang domestik seperti Texas dan New Mexico, yang mendorong perusahaan-perusahaan untuk mengekspor peralatan mereka yang menganggur ke luar negeri.

Perlambatan produksi ini sebagian besar disebabkan oleh harga minyak yang lebih rendah dan peningkatan pasokan dari aliansi OPEC+. Kondisi ini memaksa para pengebor serpih untuk memangkas jumlah rig dan biaya operasional. Bahkan, beberapa pelaku industri fracking memperingatkan bahwa produksi minyak serpih AS mungkin telah mencapai puncaknya.

Dalam dua tahun terakhir, ratusan pompa berukuran truk 18 roda telah dikirim ke Argentina dan Australia oleh penyedia jasa pengeboran terkemuka. Perusahaan seperti Halliburton Co., Calfrac Well Services Ltd., dan Liberty Energy Inc. menjadi pemain utama dalam pergeseran strategis ini. Selain pompa, pengiriman ini juga mencakup menara pasir, tangki air, blender industri, serta selang sepanjang bermil-mil yang esensial untuk menyuntikkan cairan dan pasir ke lapisan batuan lebih dari satu mil di bawah tanah.

Perusahaan analitik Primary Vision memperkirakan bahwa peralatan yang diekspor ini setara dengan hampir seperlima dari kapasitas fracking yang digunakan di Cekungan Permian hingga tahun lalu, dan volume ekspor diperkirakan akan terus bertambah. Diperkirakan sekitar 8 juta tenaga kuda dari kapasitas pengeboran serpih AS saat ini menganggur, dan seperempat dari jumlah tersebut berpotensi diekspor dalam satu hingga dua tahun ke depan. Investasi baru dalam pompa dan peralatan fracturing juga dilakukan oleh perusahaan seperti Tenaris SA untuk mendukung wilayah Vaca Muerta di Argentina yang sedang berkembang pesat.

Selain Argentina dan Australia, pasar baru di negara-negara seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga menjadi target. Negara-negara ini mungkin akan mulai menggunakan mesin pengeboran serpih yang lebih canggih, terutama peralatan berbahan bakar diesel, untuk meningkatkan produksi gas alam mereka.

Pergeseran ini terjadi di tengah prospek pasar minyak global yang diperkirakan akan mengalami surplus pada tahun 2026, dengan pasokan yang melampaui pertumbuhan permintaan. International Energy Agency (IEA) memproyeksikan surplus besar pada kuartal pertama 2026. Goldman Sachs memperkirakan harga minyak mentah Brent akan berada di kisaran US$50–US$55 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) sekitar US$50-an per barel pada tahun 2026. Di sisi lain, pasar peralatan pengeboran ladang minyak global justru diproyeksikan tumbuh signifikan antara tahun 2025 dan 2034, didorong oleh peningkatan konsumsi energi global dan kemajuan teknologi pengeboran modern.

Sementara produksi minyak serpih di daratan AS melambat, produksi di lepas pantai Teluk Meksiko justru diperkirakan akan meningkat. Perusahaan-perusahaan besar seperti Chevron Corp., Shell Plc, dan BP Plc berencana untuk meningkatkan produksi secara signifikan pada periode 2026-2028. Pergeseran strategis oleh perusahaan-perusahaan AS ini menunjukkan upaya adaptasi terhadap dinamika yang terus berubah, sekaligus mencari peluang profitabilitas di luar batas domestik.