Puma SE, produsen pakaian olahraga asal Jerman, mengumumkan proyeksi kerugian operasional untuk tahun fiskal 2026 dan pembatalan pembayaran dividen untuk tahun fiskal 2025. Keputusan ini diambil di tengah upaya restrukturisasi besar-besaran yang disebut sebagai ‘tahun transisi’ untuk mengembalikan profitabilitas perusahaan.
Pada Kamis (26/2/2026), Puma melaporkan kerugian operasional (EBIT) sebesar €357,2 juta untuk tahun fiskal 2025. Angka ini, meskipun merupakan kerugian, lebih kecil dari ekspektasi analis yang memproyeksikan kerugian sekitar €374 juta. Penjualan perusahaan juga mengalami penurunan 8,1% secara mata uang disesuaikan menjadi €7.296,2 juta, atau 13,1% secara dilaporkan. Akibat kinerja negatif ini, Puma mencatat kerugian bersih sebesar €645,5 juta pada tahun 2025.
Menyusul kerugian bersih pada tahun 2025, Dewan Manajemen dan Dewan Pengawas Puma SE akan mengusulkan kepada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada 19 Mei 2026 agar tidak ada dividen yang dibagikan untuk tahun fiskal 2025. Sebagai perbandingan, pada tahun fiskal 2024, Puma membagikan dividen sebesar €0,61 per saham.
Untuk tahun fiskal 2026, Puma memproyeksikan kerugian operasional (EBIT) antara €50 juta hingga €150 juta. Perusahaan juga memperkirakan penjualan yang disesuaikan dengan mata uang akan menurun dalam kisaran persentase rendah hingga menengah satu digit. Penurunan ini terutama disebabkan oleh penjualan yang lebih rendah di Amerika Utara, meskipun pertumbuhan di Amerika Latin, Timur Tengah, Afrika, dan India diharapkan dapat sedikit mengompensasi. Puma juga merencanakan belanja modal (CAPEX) sekitar €200 juta.
Arthur Hoeld, yang mengambil alih posisi CEO Puma pada Juli 2025, memimpin upaya pemulihan ini. Ia menyatakan bahwa tahun 2025 adalah “tahun pengaturan ulang” bagi perusahaan, dan 2026 akan menjadi “tahun transisi”. Tujuan utamanya adalah menjadikan Puma sebagai salah satu dari tiga merek olahraga global teratas, kembali ke pertumbuhan di atas rata-rata industri, dan menghasilkan keuntungan yang sehat dalam jangka menengah, dengan target profitabilitas pada tahun 2027.
Strategi pemulihan Puma mencakup penataan ulang distribusi, pengurangan tingkat inventaris melalui manajemen volume pembelian yang disiplin dan inisiatif pembersihan produk yang ditargetkan, serta program efisiensi biaya. Hoeld juga menekankan pentingnya membuat merek Puma “kurang komersial” dan kembali menarik konsumen dengan produk yang menarik, narasi yang kuat, dan distribusi di saluran yang tepat. Perusahaan juga telah berhasil membersihkan sebagian besar distribusinya dengan mengurangi promosi di saluran sendiri dan membatasi eksposur ke saluran grosir yang merusak daya tarik merek. Proses pembersihan inventaris dilaporkan sedikit lebih cepat dari jadwal, dengan harapan tingkat inventaris akan kembali normal pada akhir 2026.
Selain itu, Puma juga menghadapi tingkat utang bersih yang meningkat signifikan menjadi €1.063,5 juta pada akhir tahun 2025, naik dari €119,8 juta pada tahun 2024. Chief Financial Officer Markus Neubrand menegaskan, “Mengingat tingkat utang yang tinggi, kami melakukan deleveraging, ini adalah prioritas dan kami menargetkan pengurangan utang selama beberapa tahun mendatang.” Di sisi lain, Puma menyambut baik Anta Sports, merek pakaian olahraga terbesar di Tiongkok, yang bulan lalu setuju untuk membeli 29% saham di Puma sebagai investor strategis. Hoeld menyatakan “sangat gembira” dengan investasi ini, dan Anta berencana untuk meningkatkan pangsa penjualan Puma di Tiongkok Raya, yang saat ini hanya menyumbang 7% dari total penjualan.
Meskipun berita ini, saham Puma mengalami kenaikan antara 4% hingga 7% pada perdagangan Kamis, kemungkinan karena kerugian yang lebih kecil dari perkiraan dan optimisme terhadap rencana restrukturisasi yang sedang berjalan.