Putusan MA AS dan Tekanan Washington Dorong India Pangkas Impor Minyak Rusia

Author Image

Hodak

26 Februari 2026

india, rusia, amerika serikat, minyak mentah, sanksi as

Kilang-kilang minyak di secara signifikan meminimalkan pembelian dari , terutama untuk pengiriman Maret dan April 2026. Langkah ini diambil di tengah dinamika geopolitik yang kompleks, termasuk putusan Mahkamah Agung (AS) baru-baru ini yang membatalkan tarif impor, serta tekanan berkelanjutan dari Washington terkait sumber energi New Delhi.

Pada Jumat, 20 Februari 2026, Mahkamah Agung AS mengeluarkan putusan penting yang menyatakan bahwa Presiden Donald Trump tidak memiliki wewenang untuk memberlakukan tarif impor secara luas di bawah Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA). Putusan ini secara spesifik membatalkan tarif tambahan 25% yang sebelumnya dikenakan pada barang-barang India sebagai respons atas pembelian minyak Rusia. Meskipun demikian, beberapa jam setelah putusan tersebut, Presiden Trump menandatangani perintah eksekutif baru yang memberlakukan tarif global 10% di bawah Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan 1974, yang kemudian dinaikkan menjadi 15%.

Penurunan Drastis Impor Minyak Rusia

Data terbaru menunjukkan penurunan tajam dalam impor minyak Rusia oleh India. Pada Januari 2026, impor minyak Rusia India tercatat sebesar 1,16 juta barel per hari (bph), sebuah pengurangan signifikan dari puncaknya. Angka ini lebih rendah dari rata-rata 1,71 juta bph pada tahun 2025. Bahkan, impor pada Desember 2025 mencapai level terendah dalam 38 bulan terakhir. Perusahaan-perusahaan besar seperti Reliance Industries melaporkan nol pengiriman minyak mentah Rusia pada Januari 2026, sementara Mangalore Refinery and Petrochemicals Limited (MRPL) juga menghentikan pembelian Rusia pada pertengahan Januari 2026. Analis memperkirakan volume impor akan terus menurun, dengan proyeksi antara 800.000 hingga 1 juta bph pada Maret 2026.

Tekanan AS dan Kesepakatan Dagang

Penurunan ini sebagian besar dipicu oleh tekanan berkelanjutan dari AS dan ancaman sanksi sekunder terhadap entitas yang berurusan dengan perusahaan minyak besar Rusia seperti Rosneft dan Lukoil, yang memasok lebih dari dua pertiga minyak Rusia ke India. Langkah India untuk mengurangi ketergantungan pada minyak Rusia juga sejalan dengan upaya New Delhi untuk mencapai kesepakatan perdagangan yang lebih luas dengan Washington. Awal Februari 2026, Presiden Trump mengumumkan kesepakatan perdagangan sementara (ITA) dengan India, yang mencakup pengurangan tarif timbal balik menjadi 18% dari sebelumnya 50%. Trump mengklaim bahwa India telah berkomitmen untuk menghentikan impor minyak Rusia, meskipun New Delhi belum secara resmi mengkonfirmasi komitmen tersebut.

Strategi Diversifikasi dan Reaksi Internasional

Juru bicara Kementerian Luar Negeri India menyatakan bahwa, “Diversifikasi sumber energi kami sesuai dengan kondisi pasar objektif dan dinamika internasional yang berkembang adalah inti dari strategi kami” untuk memastikan keamanan energi negara. Sebagai bagian dari strategi ini, India telah meningkatkan pembelian dari Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Selatan, dengan Arab Saudi kini kembali menjadi pemasok utama India. Selain itu, larangan Uni Eropa terhadap produk olahan minyak mentah Rusia, yang berlaku sejak 21 Januari 2026, juga mendorong kilang-kilang India yang mengekspor ke UE untuk mencari bahan baku alternatif.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan bahwa mereka “tidak memiliki alasan” untuk percaya bahwa India telah mengubah posisinya dalam membeli minyak Rusia, menekankan manfaat timbal balik dan stabilitas pasar global. Sementara India mengurangi impor, Tiongkok justru meningkatkan pembelian minyak Rusia, menjadikannya klien energi utama Rusia di Asia.