Qatar Kecam Keras Serangan Iran ke Pelabuhan Duqm dan Kapal Tanker, Harga Minyak Melonjak

Doha, , melayangkan kecaman keras terhadap serangkaian serangan yang menargetkan pelabuhan komersial Duqm di Kesultanan serta sebuah kapal tanker minyak di lepas pantainya pada Jumat, 1 Maret 2026. Insiden ini terjadi di tengah gelombang eskalasi militer yang lebih luas di kawasan Teluk, memicu kekhawatiran serius akan stabilitas regional dan menyebabkan lonjakan signifikan pada global.

Kementerian Luar Negeri Qatar dalam pernyataannya menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan “pelanggaran kedaulatan Kesultanan, eskalasi yang tidak dapat diterima, dan penargetan pengecut terhadap negara yang memainkan peran mediasi aktif.” Oman diketahui telah berupaya keras memediasi antara Iran dan komunitas internasional untuk meredakan ketegangan dan mendorong dialog konstruktif.

Juru Bicara Resmi Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, turut menyuarakan keprihatinannya. Ia memperingatkan bahwa penargetan Oman secara langsung mengancam upaya diplomatik di kawasan tersebut. “Penargetan yang disengaja terhadap Kesultanan Oman, sebuah negara yang telah melakukan upaya tulus untuk menengahi dan mencegah pertumpahan darah, serta berupaya menjaga pintu diplomasi tetap terbuka hingga saat-saat terakhir, adalah serangan terhadap prinsip mediasi itu sendiri,” ujar Al Ansari.

Tidak hanya Qatar, Arab Saudi juga bergabung dalam mengecam tindakan Iran ini, menyebutnya sebagai “pelanggaran terang-terangan” terhadap kedaulatan Oman dan “eskalasi yang tidak dapat diterima.” Serangan di Duqm menyebabkan satu pekerja asing terluka, sementara empat awak kapal tanker minyak berbendera Palau, “Skylight,” juga mengalami cedera setelah kapal tersebut dihantam di lepas Semenanjung Musandam.

Eskalasi ini merupakan bagian dari gelombang serangan balasan Iran menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di wilayah Iran. Iran sendiri mengonfirmasi telah menyerang sebuah kapal tanker minyak karena dianggap “menentang perintah” untuk tidak melintasi Selat Hormuz.

Dampak ketegangan tidak hanya dirasakan oleh Oman. Qatar juga menjadi sasaran agresi Iran, di mana sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat 18 rudal balistik dan drone dari Iran. Insiden ini mengakibatkan delapan orang terluka di Qatar. Media-media Qatar mengecam keras serangan ini, menyebutnya sebagai “serangan terang-terangan terhadap kedaulatan Qatar” dan “pelanggaran mencolok hukum internasional.”

Kondisi ini segera memicu gejolak di pasar minyak global. Harga minyak mentah Brent melonjak tajam, mencapai sekitar $79 per barel pada 1 Maret 2026, setelah sebelumnya ditutup pada level tertinggi tujuh bulan di $72,87 pada 28 Februari 2026. Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi urat nadi sekitar 20-30 persen pasokan minyak dan gas global, menghadapi gangguan serius. Lebih dari 200 kapal, termasuk kapal tanker minyak dan gas alam cair (LNG), terpaksa menunda pergerakan di sekitar selat tersebut.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran bahkan mengeluarkan peringatan kepada kapal-kapal, mengisyaratkan potensi penutupan Selat Hormuz dengan transmisi VHF yang menyatakan “tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz.” Sebagai langkah antisipasi, Kementerian Transportasi Qatar pada 28 Februari 2026 mengumumkan penangguhan sementara lalu lintas maritim.

Ancaman terhadap keamanan maritim di kawasan ini semakin diperparah dengan pernyataan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman. Mereka mengisyaratkan akan melanjutkan serangan terhadap pelayaran komersial di Laut Merah menyusul serangan AS-Israel terhadap Iran. Menanggapi situasi yang bergejolak, OPEC+ menyetujui peningkatan produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari untuk April 2026, sebuah langkah yang bertujuan menyeimbangkan risiko geopolitik dengan upaya menghindari kelebihan pasokan di pasar.