Qatar mengecam keras serangan rudal balistik yang dilancarkan Iran ke wilayahnya pada Sabtu, 28 Februari 2026, yang menyebabkan setidaknya 16 warga sipil terluka dan kerusakan properti terbatas. Insiden ini terjadi di tengah eskalasi ketegangan regional menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Kementerian Dalam Negeri Qatar melaporkan bahwa sebanyak 66 rudal diarahkan ke wilayah negara itu dalam satu gelombang serangan, dengan 114 laporan jatuhnya serpihan rudal di berbagai lokasi, termasuk area permukiman dan ruang terbuka. Delapan korban luka baru tercatat pada Minggu, 1 Maret 2026, menambah total menjadi 16 orang sejak serangan dimulai. Salah satu korban dilaporkan mengalami luka serius dan masih menjalani perawatan intensif.
Kementerian Pertahanan Qatar mengumumkan keberhasilan pasukannya dalam mencegat sejumlah serangan tersebut, menegaskan bahwa semua rudal berhasil diintersepsi sebelum mencapai target di wilayah Qatar berkat kesiapsiagaan tinggi dan koordinasi antarotoritas terkait. Secara diplomatik, Kementerian Luar Negeri Qatar mengutuk keras penargetan ini sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan, keamanan, dan integritas teritorial negara. Mereka juga menilai serangan ini sebagai eskalasi yang tidak dapat diterima dan mengancam stabilitas kawasan.
Pemerintah Qatar menegaskan hak penuhnya untuk menanggapi serangan ini sesuai ketentuan hukum internasional dan secara proporsional. Peringatan darurat nasional telah dikeluarkan, mengimbau warga untuk tetap berada di dalam rumah, menjauhi area militer, dan segera melaporkan benda asing yang diduga serpihan rudal atau amunisi kepada aparat keamanan.
Serangan rudal ini merupakan bagian dari gelombang balasan Iran terhadap serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Selain Qatar, negara-negara Teluk lainnya seperti Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain juga melaporkan keberhasilan mencegat rudal Iran. Seorang pejabat Iran, seperti dikutip Qatar TV pada 28 Februari 2026, menyatakan bahwa serangan mereka “tidak akan terbatas pada pangkalan militer AS saja. Semua kepentingan Washington akan menjadi sasaran.”
Ini bukan kali pertama Qatar menjadi sasaran dalam konflik regional. Pada Juni 2025, selama konflik 12 hari antara Iran dan Israel, Teheran juga meluncurkan rudal ke Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, yang merupakan fasilitas militer utama Amerika Serikat di dekat Doha.
Di samping ancaman rudal, kelompok-kelompok siber pro-Iran juga terus menjadi perhatian. Kelompok seperti “Cyber Av3ngers”, yang diidentifikasi sebagai bagian dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, dikenal menargetkan infrastruktur kritis, termasuk sistem kontrol industri (PLC) di berbagai negara. Modus operandi mereka meliputi perusakan situs (defacement), penyebaran informasi palsu, dan kampanye ransomware. Pada Oktober 2024, sebuah laporan OpenAI bahkan menyoroti penggunaan ChatGPT oleh kelompok ini untuk melakukan pengintaian target dan debugging kode.
Laporan Cyble mengenai lanskap ancaman siber Qatar tahun 2025 menunjukkan adanya risiko tinggi dari serangan yang ditargetkan, termasuk ransomware (terutama Qilin), pelanggaran data, dan penjualan akses yang dikompromikan. Meskipun aktivitas hacktivism cenderung rendah dan lebih banyak didorong oleh narasi geopolitik, Qatar terus berinvestasi besar dalam infrastruktur keamanan siber untuk memperkuat pertahanannya terhadap ancaman yang semakin canggih.
Meskipun Qatar secara konsisten menyerukan dialog sebagai landasan optimal untuk menyelesaikan perselisihan secara damai, penargetan berulang terhadap wilayahnya dinilai bertentangan dengan prinsip bertetangga baik dan mengancam fondasi kesepahaman bilateral. Situasi ini menyoroti kerentanan kawasan Teluk di tengah ketegangan geopolitik yang terus memanas.