Ramadan 1447 H: Mengukir Ketakwaan Sejati Melalui Kultum dan Ibadah Puasa

Author Image

Hodak

21 Februari 2026

Trending Image 1771677529

Bulan suci Ramadan 1447 Hijriah telah tiba, membawa serta semangat spiritual yang mendalam bagi umat Muslim di seluruh dunia. Berdasarkan perhitungan Muhammadiyah, 1 jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, sementara pemerintah melalui Kementerian Agama memprakirakan awal Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026, dengan penetapan resmi menunggu sidang isbat. Di tengah semaraknya puasa, atau kuliah tujuh menit kembali menjadi tradisi yang tak terpisahkan, menguatkan pesan-pesan kebaikan, khususnya tentang .

Ketakwaan, sebuah konsep sentral dalam ajaran Islam, berasal dari kata “waqa” yang berarti menjauh atau melindungi diri dari sesuatu yang merugikan. Lebih dari sekadar rasa takut, takwa adalah upaya memelihara hubungan dengan Tuhan yang didasari kesadaran diri sebagai seorang hamba. Hal ini mencakup ketaatan penuh kepada Allah SWT, menjalankan segala perintah-Nya, dan menjauhi setiap larangan-Nya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an dan berbagai tafsir ulama.

Bulan Ramadan secara khusus disebut sebagai madrasah spiritual, sebuah kesempatan emas untuk menggapai derajat takwa. Kewajiban berpuasa selama sebulan penuh, seperti termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, bertujuan agar umat manusia menjadi pribadi yang bertakwa. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan juga melatih pengendalian diri dari hawa nafsu, amarah, menjaga lisan, serta memaafkan kesalahan orang lain.

Dalam konteks ini, kultum memainkan peran vital sebagai medium pencerahan. Disampaikan setelah salat Tarawih atau di berbagai majelis, kultum mampu menyentuh hati dan menambah semangat ibadah. Kebutuhan akan kultum yang singkat, padat, jelas, dan menyentuh hati semakin meningkat setiap tahunnya, dengan tema-tema yang mengupas makna hakiki puasa, muhasabah diri, hingga pentingnya istiqomah dalam ketakwaan setelah Ramadan.

Para ulama dan cendekiawan Muslim turut menekankan esensi takwa. Saidina Ali R.A. pernah berujar, “Taqwa ialah merasa takut dan gerun kepada Allah Yang Maha Agung, beramal dengan apa yang terkandung dalam al-Quran, bersikap qana’ah dengan sedikit dan persediaan bagi hari Akhirat.” Senada dengan itu, Dr. Akhmad Sodiq, M.Ag., mengartikan takwa sebagai kepatuhan, taat, dan takut pada sesuatu yang sangat mengagumkan, yang menuntut kita untuk terus mendekat kepada Allah SWT. Takwa juga mencakup kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Melihat, mendorong seseorang untuk bertindak dengan integritas dan kejujuran.

Anggota DPR RI Benny Utama, dalam menyambut Ramadan 1447 H, mengajak masyarakat menjadikan bulan ini sebagai momentum introspeksi diri dan penguatan integritas. Ia menyatakan, “Ramadhan mengajarkan kita untuk menahan diri dari segala hal yang tidak baik, termasuk dalam perkataan dan perbuatan. Ini menjadi pelajaran penting, terutama dalam membangun budaya hukum yang adil dan berintegritas.” Dengan demikian, ketakwaan yang terasah selama Ramadan diharapkan tidak hanya berhenti pada aspek ritual, tetapi juga termanifestasi dalam kehidupan sosial, seperti kepedulian terhadap sesama melalui infak dan sedekah, serta menjaga lisan dan perilaku.

Pada akhirnya, Ramadan adalah momentum untuk meraih kedamaian, petunjuk, keberkahan, dan derajat tinggi di sisi Allah. Melalui puasa dan kultum yang penuh makna, umat Muslim diajak untuk terus mengasah ketakwaan, menjadikannya bekal terbaik dalam mengarungi kehidupan, baik di bulan suci ini maupun di hari-hari setelahnya.