Angin dingin dari lereng perbukitan masih terasa lembap, menyelimuti Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Di tengah suasana yang belum sepenuhnya pulih dari duka, Yati Rohayati (47) melangkah pelan, mencoba menata kembali hidupnya yang porak-poranda. Ramadan tahun ini datang dengan nuansa yang sangat berbeda baginya, tanpa rumah dan kehangatan kebersamaan yang dulu selalu ada.
Bencana longsor dahsyat yang menerjang Cisarua pada 24 Januari 2026 dini hari, sekitar pukul 02.30 WIB, telah mengubah segalanya. Hujan deras yang tak henti-hentinya memicu aliran lumpur dari kaki Gunung Burangrang, menimbun tiga kampung: Pasirkuning RT 05 RW 11, Pasirkuda RT 01 RW 10, dan Babakan Cibudah RT 06 RW 07 di Desa Pasirlangu. Tragedi itu menewaskan sedikitnya 80 orang dan menyebabkan puluhan lainnya hilang, serta merusak berat 53 rumah warga.
Bagi Yati, longsor itu tak hanya merenggut rumahnya, tetapi juga kebun bunga yang selama ini menjadi tulang punggung keluarganya. Kini, ia bersama suami dan kedua anaknya harus menjalani hari-hari di rumah kontrakan. Meski demikian, Yati berusaha tegar. “Alhamdulillah kondisinya saat ini mulai membaik, mulai bisa menerima keadaan, meskipun sekarang ngontrak rumah,” ujarnya pada Rabu (25/2/2026).
Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menyalurkan bantuan sebesar Rp10 juta yang diharapkan cukup untuk biaya sewa kontrakan dan kebutuhan hidup selama dua bulan ke depan. Berbagai pihak, termasuk Kementerian Pertanian dengan 26 truk bantuan dan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama PT Nusantara Turbin & Propulsi (PT NTP), juga turut mengulurkan tangan.
Namun, di balik bantuan materi, ada luka yang lebih dalam bagi Yati. Ia merindukan kebersamaan yang hilang, terutama saat Ramadan tiba. “Kalau lagi ramadan kita pasti kumpul, ibadah bersama, tarawih, kerasanya sekarang, jadi kita semua tidak kumpul, pas hari pertama tarawih lihat kanan kiri orang lain, suasananya berbeda, tapi sedikit demi sedikit menerima,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca. Baginya, kehilangan harta benda masih bisa dicari, tetapi kehilangan momen berkumpul bersama keluarga dan tetangga di masjid atau musala adalah duka yang paling sulit disembuhkan.
Duka kolektif masyarakat Cisarua juga terasa dalam prosesi pemakaman massal yang digelar pada Jumat (27/2/2026) di TPU Tanah Mati, Kampung Batunyatuh, Desa Pasirlangu. Sebanyak 10 jenazah korban longsor yang belum teridentifikasi dimakamkan dalam satu liang lahat. Lantunan doa dan sholawat mengiringi prosesi haru tersebut, menjadi penanda duka mendalam sekaligus harapan akan ketenangan bagi para korban. Sebelumnya, pada 30 Januari 2026, para pengungsi dan relawan juga telah melaksanakan salat gaib untuk mendoakan para korban.
Sekretaris Daerah Bandung Barat, Ade Zakir, menjelaskan bahwa seluruh jenazah telah diambil sampel DNA, namun hingga kini belum ada kecocokan dengan data pelapor. Pemakaman dilakukan dengan penandaan nomor post-mortem untuk memudahkan identifikasi di kemudian hari.
Di tengah ketidakpastian dan kehilangan, Yati terus belajar untuk pulih. Ia percaya bahwa pulih adalah tentang menerima kenyataan dan tetap yakin bahwa esok hari akan sedikit lebih baik, meskipun ia harus membangun segalanya dari nol. Kisahnya menjadi cerminan ketabahan warga Cisarua yang berjuang bangkit dari trauma, mencari kekuatan dalam iman dan solidaritas, sembari merajut kembali asa di tengah puing-puing kehidupan yang baru.