Minggu, 15 Maret 2026, menandai Hari Minggu Prapaskah IV dalam kalender liturgi Gereja Katolik, sebuah periode penting yang dikenal pula sebagai Minggu Laetare. Pada hari ini, umat diajak untuk merenungkan kembali sabda Tuhan, dengan fokus pada tema ‘terang Yesus’ dan pentingnya melihat dengan hati, bukan hanya dengan mata jasmani. Warna liturgi yang digunakan adalah ungu, meskipun merah muda juga diperbolehkan untuk menandai sukacita di tengah masa pertobatan Prapaskah.
Masa Prapaskah merupakan waktu istimewa bagi umat Katolik untuk mempersiapkan diri menyambut perayaan Paskah melalui doa, pertobatan, dan refleksi iman. Memasuki Minggu Prapaskah IV, Gereja mengingatkan akan harapan dan sukacita yang selalu Tuhan hadirkan bagi umat-Nya, bahkan di tengah perjalanan pertobatan yang penuh tantangan.
Bacaan Liturgi Minggu Prapaskah IV
Liturgi pada Minggu ini menyajikan serangkaian bacaan yang saling terkait, mengajak umat untuk mendalami pesan ilahi:
Bacaan Pertama: 1 Samuel 16:1b,6-7,10-13a
Dalam bacaan pertama, umat diajak merenungkan kisah pemilihan Daud sebagai raja oleh Tuhan. Nabi Samuel, yang diutus untuk mengurapi raja baru Israel, awalnya terpikat oleh penampilan fisik Eliab. Namun, Tuhan mengingatkan Samuel dengan firman-Nya, “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” Kisah ini menekankan bahwa penilaian Tuhan melampaui penampilan lahiriah, berfokus pada kedalaman hati dan kesetiaan.
Mazmur Tanggapan: Mazmur 23:1-3a,3b-4,5,6
Mazmur Tanggapan pada hari ini adalah Mazmur Daud yang terkenal, “Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan.” Mazmur ini menegaskan peran Tuhan sebagai gembala yang membimbing, melindungi, dan menyediakan segala kebutuhan umat-Nya. Pesan ini memberikan penghiburan dan keyakinan akan pemeliharaan ilahi di setiap langkah kehidupan.
Bacaan Kedua: Efesus 5:8-14
Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus mengingatkan umat bahwa “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang.” Bacaan ini mendorong umat untuk menjauhi perbuatan kegelapan dan sebaliknya, menghasilkan buah kebaikan, keadilan, dan kebenaran dalam hidup mereka.
Bacaan Injil: Yohanes 9:1-41 (atau versi singkat Yohanes 9:1,6-9,13-17,34-38)
Inti dari renungan hari ini terletak pada Bacaan Injil yang mengisahkan mukjizat Yesus menyembuhkan seorang pria yang buta sejak lahir di Kolam Siloam. Kisah ini bukan hanya tentang kesembuhan fisik, melainkan juga perjalanan menuju terang iman. Pria yang tadinya buta itu secara bertahap mengenal Yesus, dari seorang manusia, lalu seorang nabi, hingga akhirnya mengakui-Nya sebagai Tuhan. Sebaliknya, kaum Farisi yang merasa diri sudah ‘melihat’ justru menjadi buta secara rohani karena terpaku pada aturan dan penilaian mereka sendiri, gagal mengenali karya Tuhan yang nyata di hadapan mereka.
Refleksi dan Pesan Utama
Renungan Katolik Minggu ini, yang sering mengangkat tema “Melihat Terang”, mengajak umat untuk tidak hanya melihat dengan mata jasmani, melainkan juga dengan hati. Romo Vincentius Kirjito, Pr, dalam salah satu misa, menekankan pentingnya kepekaan terhadap simbol terang, mukjizat, dan air sebagai anugerah yang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan. Konsep “Mudik Rohani” juga diangkat, mengajak umat untuk melakukan perjalanan batin, kembali ke akar iman, dan membasuh segala keletihan jiwa.
Kasih kepada sesama menjadi inti ajaran Kristiani yang diingatkan kembali pada Minggu Prapaskah IV ini. Melalui sabda Tuhan, umat diajak untuk terus memperdalam hubungan dengan Allah dan memulihkan nasib umat manusia, menyongsong perayaan Paskah dengan bakti yang rela dan iman yang bersemangat.
Doa Penutup
Umat Katolik diundang untuk menutup renungan dengan doa, memohon ampunan dan kemampuan untuk melakukan segala perintah Tuhan demi kemuliaan-Nya.