Revolusi Top Chef Musim ke-17: Philippe Etchebest dan Juri Hadapi Tantangan Baru di Luar Studio

Kompetisi memasak bergengsi asal Prancis, , kembali hadir di layar kaca M6 dengan musim ke-17 yang membawa angin segar perubahan format. Dimulai sejak Rabu, 4 Maret 2026 pukul 21.10 waktu setempat, edisi terbaru ini secara radikal meninggalkan sistem brigade dan studio tetap, menantang para koki muda untuk bersaing secara individu di berbagai lokasi ikonik di seluruh Prancis.

, salah satu juri veteran yang dikenal dengan ketegasannya, bersama Hélène Darroze, Paul Pairet, Glenn Viel, dan Stéphanie Le Quellec, kini mengemban peran sebagai penilai murni. Perubahan ini menandai pergeseran signifikan dari format sebelumnya, termasuk musim ke-15 (2024) yang masih menampilkan enam juri dan dua brigade.

Format Baru: Tanpa Brigade, Tanpa Studio

Musim ke-17 Top Chef mengusung konsep “hors les murs” atau di luar dinding studio, yang berarti setiap episode akan berlangsung di lokasi berbeda. Ini merupakan langkah besar setelah sistem brigade diperkenalkan pada musim ke-8. Tujuannya adalah untuk menguji kemampuan adaptasi para kandidat terhadap lingkungan dan kendala yang beragam, mencerminkan realitas dunia modern yang menuntut koki untuk mampu berkreasi di berbagai tempat.

Beberapa lokasi menantang yang menjadi saksi bisu persaingan para koki antara lain restoran panorama di Tignes pada ketinggian 3.000 meter, pantai Le Touquet, Abbaye de Collonges sebagai penghormatan kepada Paul Bocuse, hingga Château de Fontainebleau. Episode perdana musim ini bahkan langsung membawa para peserta ke Tignes.

Dinamika Juri dan Kandidat

Dengan hilangnya sistem brigade, para juri kini tidak lagi membimbing tim, melainkan fokus pada evaluasi objektif. Stéphanie Le Quellec, salah satu juri, menyatakan bahwa perubahan ini menempatkan mereka dalam posisi seperti pelanggan yang hanya melihat hidangan akhir, tanpa mengetahui proses di baliknya. Philippe Etchebest sendiri melihat format baru ini sebagai hal yang sangat positif, karena mendorong para kandidat untuk lebih fokus pada kepribadian dan cerita yang ingin mereka sampaikan melalui masakan.

Meskipun demikian, Etchebest mengakui adanya “désaccords” atau ketidaksepakatan di antara para juri saat menilai hidangan, namun ia menegaskan bahwa itu bukanlah “engueulade” atau pertengkaran. “Kami adalah teman baik, kami senang bertemu lagi, ini juga merupakan rekreasi kecil yang kami miliki di antara kami, dan itu benar-benar banyak kesenangan,” ujar Etchebest. Ia menambahkan bahwa diskusi tersebut seringkali terjadi karena perbedaan pandangan dalam menentukan hidangan terbaik.

Sebanyak 16 kandidat terpilih akan berjuang untuk memperebutkan gelar Top Chef musim ini. Selain kompetisi utama, program ini juga kembali menghadirkan “Top Chef: Le concours parallèle” di paruh kedua malam, sebuah kompetisi sampingan yang memungkinkan kandidat yang tereliminasi untuk kembali ke persaingan utama, dengan juri seperti François-Régis Gaudry, Yoann Conte, dan Fabien Ferré.

Tantangan dan Harapan

Musim ke-17 ini diharapkan dapat menghadirkan tingkat kegembiraan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan produser yang telah merombak format tradisional. Namun, episode perdana musim ini mencatat 1,55 juta penonton dengan pangsa pasar 10,6%, yang digambarkan sebagai “peluncuran terburuk dalam sejarah program” oleh beberapa media. Meskipun demikian, semangat kompetisi dan inovasi dalam dunia kuliner tetap menjadi inti dari Top Chef yang terus berupaya mencari talenta gastronomi masa depan.