Uni Emirat Arab (UEA) kembali menjadi sasaran serangan rudal balistik Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, yang berhasil ditangkis oleh sistem pertahanan udara negara tersebut. Namun, insiden ini menelan korban jiwa seorang warga sipil berwarga negara Asia di Abu Dhabi, sekaligus menguji citra UEA sebagai pusat keuangan yang aman di tengah gejolak regional yang terus meningkat.
Kementerian Pertahanan UEA mengumumkan bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat gelombang rudal Iran yang diluncurkan ke arah negara itu, menangani ancaman tersebut dengan efisiensi tinggi tanpa menyebabkan kerusakan infrastruktur. Meskipun demikian, puing-puing rudal yang dicegat jatuh di beberapa wilayah Abu Dhabi, termasuk Pulau Saadiyat, St. Regis Abu Dhabi, Khalifa City, Beni Yas, Mohamed Bin Zayed City, dan Al Falah. Insiden ini juga menyebabkan satu kematian warga sipil berwarga negara Asia akibat jatuhnya puing rudal di area permukiman.
Pada hari yang sama, peringatan seluler tentang “potensi ancaman rudal” sempat beredar di Abu Dhabi, memicu kekhawatiran di kalangan penduduk dan ekspatriat. Laporan juga menyebutkan ledakan terdengar di kota-kota Teluk lainnya seperti Dubai, Riyadh (Arab Saudi), Doha (Qatar), Kuwait, dan Bahrain. Eskalasi ini menyebabkan maskapai penerbangan global menangguhkan penerbangan di seluruh Timur Tengah.
Korps Garda Revolusi Iran mengklaim serangan ini sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat dan Israel, serta menegaskan bahwa serangan akan terus berlanjut hingga musuh-musuh mereka dikalahkan. Kementerian Pertahanan UEA mengutuk keras serangan tersebut, menyebutnya sebagai “pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan nasional dan hukum internasional,” serta menegaskan hak penuh UEA untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan guna melindungi wilayah, warga negara, dan penduduknya.
UEA Perkuat Pertahanan di Tengah Ancaman Berkelanjutan
Ancaman rudal dan drone dari kelompok bersenjata di kawasan, termasuk Houthi yang didukung Iran, telah menjadi perhatian serius bagi UEA. Pada 10 Oktober 2025, pemimpin Houthi Mohammed Ali al-Houthi bahkan memperingatkan Arab Saudi dan UEA bahwa kelompoknya memiliki rudal yang “lebih akurat” dan mampu menyerang target di negara mana pun.
Menanggapi situasi keamanan yang tidak menentu ini, UEA telah secara aktif meningkatkan kemampuan pertahanan udaranya. Pada 13 Mei 2025, UEA secara resmi memperkenalkan sistem pencegat rudal balistik M-SAM-II buatan Korea Selatan (dikenal juga sebagai Cheongung Block-II), yang terintegrasi dengan sistem THAAD dan PAC-3 buatan AS. Selain itu, konglomerat pertahanan UEA, EDGE Group, meluncurkan 42 sistem pertahanan baru pada Dubai Airshow 2025, termasuk senjata serang jelajah jarak jauh dan sistem anti-drone, sebagai bagian dari upaya memperkuat basis industri pertahanan dalam negeri.
Pusat Keuangan yang Tangguh di Tengah Geopolitik yang Berubah
Meskipun menghadapi tantangan keamanan, UEA, khususnya Dubai, terus menunjukkan ketahanan ekonominya. Dubai International Financial Centre (DIFC) melaporkan hasil tahunan yang signifikan untuk tahun 2025, dengan pertumbuhan organik 28% dari tahun ke tahun dalam jumlah perusahaan terdaftar aktif, mencapai 8.844 perusahaan, serta peningkatan pendapatan sebesar 20%.
Ben Powell, Kepala Strategi Investasi untuk Asia-Pasifik dan Timur Tengah di Blackrock Investment Institute, pada 21 Januari 2026, menyatakan bahwa “fragmentasi geopolitik dunia adalah kenormalan baru,” namun mengakui bahwa UEA “melaju ke tahun baru dengan momentum.” Pasar real estat Dubai juga menjadi tujuan investasi yang menarik bagi pembeli regional yang mencari aset aman di tengah ketidakpastian, meskipun sempat mengalami penurunan indeks sebesar 1,9% setelah konflik Iran-Israel memanas pada Juni 2025.
Namun, S&P Global Market Intelligence pada 19 Juni 2025, memperingatkan bahwa meskipun perkiraan pertumbuhan global untuk 2025-2026 direvisi naik, prospek tetap sangat tidak pasti, terutama jika konflik Israel-Iran meningkat dan berpotensi mengganggu aliran minyak melalui Selat Hormuz. Hubungan dagang UEA dengan Iran juga tetap signifikan, dengan UEA menjadi mitra dagang terbesar kedua Iran pada tahun 2025, menunjukkan kompleksitas dinamika regional.
Pemerintah Kanada, per 28 Februari 2026, menyarankan warganya untuk “sangat berhati-hati” saat bepergian ke UEA karena ketegangan regional yang sedang berlangsung dan ancaman terorisme, secara khusus menyebutkan serangan rudal dan drone yang dapat mencapai daerah perkotaan, instalasi militer, infrastruktur minyak, dan bandara. Ini menggarisbawahi tantangan berkelanjutan bagi UEA dalam menyeimbangkan ambisinya sebagai pusat keuangan global dengan realitas keamanan regional yang volatil.