PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatatkan kerugian signifikan sebesar US$319,39 juta, atau setara sekitar Rp5,4 triliun (dengan asumsi kurs Rp16.990 per dolar AS), sepanjang tahun buku 2025. Angka kerugian ini melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebesar US$69,77 juta.
Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, menjelaskan bahwa pembengkakan kerugian ini utamanya dipicu oleh terbatasnya kapasitas produksi pada semester I 2025. Hal ini disebabkan oleh banyaknya armada yang belum dapat dioperasikan (unserviceable aircraft) karena masih menunggu jadwal perawatan.
Tekanan Rupiah dan Biaya Operasional
Selain masalah armada, kinerja Garuda Indonesia Group juga tertekan oleh fluktuasi nilai tukar rupiah serta peningkatan biaya tetap (fixed cost) seiring intensifnya program pemulihan armada. Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi tantangan besar mengingat sebagian besar biaya operasional dan kewajiban perseroan didominasi mata uang dolar AS, sementara pendapatan banyak dalam rupiah. Pada Maret 2026, nilai tukar rupiah sempat berada di kisaran Rp16.960 hingga Rp17.020 per dolar AS.
Penurunan passenger yield, yakni pendapatan rata-rata yang diperoleh dari setiap penumpang, juga turut membebani kinerja maskapai. Tantangan rantai pasok industri aviasi global juga berdampak pada biaya dan proses perawatan pesawat.
Sepanjang 2025, pendapatan usaha konsolidasi Garuda tercatat sebesar US$3,22 miliar, turun 5,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi seiring fase konsolidasi operasional yang tengah dijalankan untuk memperkuat fundamental bisnis perusahaan. Akibatnya, jumlah penumpang Garuda Indonesia turun menjadi 21,2 juta orang sepanjang 2025, terkoreksi 10,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Upaya Pemulihan dan Suntikan Dana Danantara
Meskipun demikian, Garuda Indonesia terus berupaya mengoptimalkan jumlah armada yang dapat dioperasikan. Hingga akhir 2025, jumlah pesawat yang laik operasi (serviceable aircraft) meningkat menjadi sedikitnya 99 pesawat, dari sebelumnya sekitar 84 pesawat pada Juni 2025. Namun, sebanyak 43 armada masih dalam proses perawatan.
Untuk memperkuat struktur permodalan dan mempercepat program perawatan armada, Garuda Indonesia menerima suntikan dana dan pinjaman pemegang saham (shareholder loan) sekitar Rp23,7 triliun dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagatha Nusantara (BPI Danantara) pada akhir 2025. Dana ini juga digunakan untuk menyelesaikan kewajiban anak usaha Citilink kepada Pertamina. Dukungan pendanaan ini berhasil mengembalikan ekuitas Garuda menjadi positif US$91,9 juta per 31 Desember 2025, dari posisi negatif US$1,35 miliar pada tahun sebelumnya.
Garuda Indonesia menargetkan tahun 2026 sebagai fase turnaround kinerja. Maskapai pelat merah ini memproyeksikan jumlah armada operasional Garuda Indonesia Group akan meningkat menjadi sedikitnya 118 pesawat pada akhir 2026, yang terdiri dari 68 armada Garuda Indonesia dan 50 armada Citilink. Berbagai inisiatif strategis, termasuk optimalisasi jaringan rute, peningkatan kapasitas armada, transformasi digital, dan penguatan manajemen pendapatan, terus dijalankan untuk mencapai target tersebut.