Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan secara signifikan pada awal pekan, Senin, 2 Maret 2026. Pelemahan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya eskalasi konflik di Timur Tengah, yang memicu aksi jual Surat Utang Negara (SUN) oleh investor asing.
Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah melorot 45 poin atau 0,27% ke level Rp 16.832 per dolar AS pada pukul 09.04 WIB. Sementara itu, data Refinitiv menunjukkan Rupiah ditutup di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,60% atau terdepresiasi ke level Rp 16.860 per dolar AS, menjadikannya level terlemah dalam dua pekan terakhir. Pelemahan ini berlanjut dari penutupan Jumat (27/2/2026) yang berada di level Rp 16.793 per dolar AS.
Sentimen ‘Risk-Off’ dan Arus Modal Keluar
Peningkatan ketegangan geopolitik global umumnya memicu pergeseran portofolio investor dari aset berisiko (risk assets) ke aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS. Kondisi ini menyebabkan arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memprediksi Rupiah akan bergerak melemah dan volatil di kisaran Rp 16.750-Rp 16.900 per dolar AS di tengah sentimen risk-off dari eskalasi perang di Timur Tengah.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa dampak bagi Indonesia umumnya muncul sebagai tekanan arus modal keluar, pelemahan Rupiah, dan kenaikan imbal hasil surat berharga negara karena investor meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi. Penguatan indeks dolar AS (DXY) juga turut menekan mata uang Garuda.
Tekanan Berlanjut Sejak Awal Tahun
Pelemahan Rupiah sebenarnya telah terjadi sejak akhir tahun 2025, bahkan menembus Rp 16.700 per dolar AS, dan kian tertekan pada rentang Rp 16.785 hingga Rp 16.880 di dua pekan pertama Januari 2026. Pada awal 2026, Rupiah bahkan tercatat melemah terhadap seluruh mata uang di kawasan ASEAN, dengan pelemahan terdalam terhadap Baht Thailand (2,98%) dan dolar Singapura (1,78%) hingga 21 Januari 2026.
Data menunjukkan, investor asing mencatat net outflow sebesar Rp 7,71 triliun (sekitar 455,6 juta dolar AS) dari pasar keuangan Indonesia pada pekan kedua Januari 2026 (12-14 Januari), terutama didorong oleh penjualan SUN sebesar Rp 8,15 triliun dan surat berharga rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar Rp 2,64 triliun. Kepemilikan asing pada SUN ritel yang dapat diperdagangkan mencapai 13% atau Rp 878,75 triliun pada Januari 2026, turun 0,3% secara tahunan, jauh di bawah porsi hampir 40% satu dekade lalu. Meskipun demikian, dominasi investor domestik saat ini membuat pasar obligasi Indonesia lebih tangguh terhadap tekanan eksternal.
Respons Bank Indonesia dan Kondisi Fiskal
Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah agar tetap sesuai dengan fundamentalnya. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan BI akan hadir di pasar keuangan untuk melakukan intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Intervensi ini juga akan disertai dengan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, sebelumnya menyampaikan bahwa fokus kebijakan BI saat ini adalah menstabilkan dan membuat Rupiah menguat, dalam rangka mendukung sasaran inflasi 2,5-3,5% pada 2026-2027. Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 20-21 Januari 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya (BI-Rate) di level 4,75% sebagai upaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
Di sisi lain, kondisi fiskal domestik juga menjadi perhatian. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencatat defisit keseimbangan primer sebesar Rp 4,2 triliun pada Januari 2026, berbanding terbalik dengan surplus Rp 11,1 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini mengindikasikan kebutuhan pembiayaan negara yang meningkat, bahkan disebut sebagai situasi ‘gali lubang tutup lubang’.
Sentimen negatif juga datang dari Moody’s Investors Service yang menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif pada Februari 2026, yang diperkirakan akan menjadi pemberat bagi pasar saham dan obligasi. Namun, di tengah tekanan ini, Kementerian Keuangan berhasil menjual Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI029 senilai Rp 14,44 triliun hingga 23 Februari 2026, menunjukkan minat investor domestik yang kuat terhadap SBN ritel.