Nilai tukar rupiah kembali tertekan secara signifikan pada pembukaan perdagangan Senin, 2 Maret 2026, dengan mata uang Garuda ditutup melemah hingga Rp16.868 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini terjadi seiring dengan aksi jual masif oleh investor asing terhadap Surat Utang Negara (SUN), dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu sentimen penghindaran risiko global.
Pada awal perdagangan, rupiah dibuka pada level Rp16.830 per dolar AS, melemah 43 poin atau setara 0,26 persen dari penutupan sebelumnya di Rp16.759 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg. Tekanan terus berlanjut sepanjang hari, dengan rupiah terpantau melorot 45 poin atau 0,27 persen ke level Rp16.832 per dolar AS pada pukul 09.04 WIB. Bahkan, beberapa sumber mencatat pelemahan mencapai 0,48 persen ke Rp16.868 per dolar AS pada penutupan perdagangan.
Investor Asing Ramai-ramai Lepas SUN
Sentimen negatif ini tercermin dari pergerakan investor di pasar domestik. Investor nonresiden mencatatkan jual neto sebesar Rp2,77 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN) selama periode 26–29 Januari 2026. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai tekanan jual asing tersebut merupakan kombinasi sentimen global dan domestik. Ia menyoroti adanya ketidakpastian arah kebijakan serta komunikasi kebijakan yang dinilai kurang konsisten di dalam negeri, yang mendorong pengurangan eksposur pada aset berdenominasi rupiah, termasuk SBN.
Konflik Timur Tengah Jadi Biang Kerok
Penyebab utama pelemahan rupiah dan aksi jual SUN kali ini adalah eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan AS-Israel ke Iran, termasuk meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei akibat serangan rudal, telah memicu serangan balasan dari Iran ke Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah. Situasi ini menciptakan ketidakpastian yang luar biasa di pasar keuangan global, mendorong investor untuk beralih ke aset-aset yang dianggap lebih aman (safe haven) seperti dolar AS.
Indeks dolar AS (DXY) tercatat menguat, menunjukkan penguatan mata uang Paman Sam terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Selain itu, lonjakan harga minyak dunia akibat konflik juga diproyeksikan akan membebani mata uang Asia, termasuk rupiah, karena sebagian besar negara di kawasan ini merupakan importir minyak mentah. Kenaikan harga minyak dapat memperbesar kebutuhan devisa untuk impor energi, yang berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan.
Faktor eksternal lain yang turut menekan rupiah adalah kebijakan moneter Amerika Serikat yang mempertahankan suku bunga tinggi oleh Federal Reserve, membuat aset berbasis dolar AS semakin menarik bagi investor global. Kondisi ini mendorong arus modal keluar dari negara berkembang menuju AS.
Bank Indonesia Siap Intervensi Pasar
Menyikapi tekanan ini, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan, “Bank Indonesia akan terus mencermati pergerakan pasar secara seksama dan merespons secara tepat, termasuk memastikan nilai tukar rupiah bergerak sesuai dengan fundamentalnya.”
BI akan tetap hadir di pasar melalui berbagai instrumen intervensi, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. Selain itu, BI juga melakukan pembelian SBN di pasar sekunder, yang hingga 18 Februari 2026 telah mencapai Rp20,23 triliun sebagai bagian dari total pembelian Rp39,92 triliun. Kebijakan BI-Rate juga dipertahankan pada 4,75 persen per 26 Februari 2026, konsisten dengan upaya penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah.
BI memandang nilai tukar rupiah saat ini cenderung undervalued
dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia, termasuk konsistensi dengan sasaran inflasi 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027.
Proyeksi dan Tantangan ke Depan
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah berpotensi menuju Rp17.000 per dolar AS dalam sepekan ke depan jika sentimen negatif dari geopolitik di Timur Tengah terus berlanjut. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, juga memproyeksikan rupiah akan bergerak melemah dan volatil di kisaran Rp16.750-Rp16.900 per dolar AS.
Meskipun demikian, fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1 persen pada 2026. Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan ekonomi 2026 dalam kisaran 4,9–5,7 persen, sementara Kementerian Keuangan optimistis pertumbuhan dapat mencapai 6 persen. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2026 tercatat 3,55 persen (yoy), meskipun inflasi inti masih rendah di level 1,33 persen. Namun, defisit APBN 2025 yang tercatat 2,9 persen dari PDB dan ketergantungan impor masih menjadi tantangan domestik yang perlu diwaspadai.