Rupiah Berfluktuasi di Kisaran Rp16.800-Rp17.000, Bank Indonesia Perkuat Intervensi Pasar

Author Image

Bejo

21 Februari 2026

rupiah, valuta asing, bank indonesia, dolar as, ekonomi indonesia

Nilai tukar (IDR) menunjukkan pergerakan yang fluktuatif sepanjang Februari 2026, diperdagangkan di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, rupiah tercatat menguat tipis 0,04% ke level Rp16.888 per berdasarkan data Bloomberg. Namun, pada pembukaan hari yang sama, rupiah sempat melemah ke Rp16.903 per dolar AS.

(BI) mencatat, pada 18 Februari 2026, rupiah berada di posisi Rp16.880 per dolar AS, menunjukkan pelemahan 0,56% dibandingkan akhir Januari 2026. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa nilai tukar rupiah saat ini masih dinilai rendah (undervalued) jika dibandingkan dengan fundamental .

Tekanan Global dan Domestik Membayangi

Pelemahan rupiah di awal tahun 2026 tidak terlepas dari kombinasi tekanan eksternal dan faktor domestik. Dari sisi global, ketidakpastian pasar keuangan yang tinggi menjadi pemicu utama. Ekspektasi suku bunga tinggi Federal Reserve AS yang berlanjut, penguatan dolar AS sebagai aset aman, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan seperti Timur Tengah, Ukraina-Rusia, dan dinamika hubungan AS-Iran, turut menekan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain itu, perang dagang dan divergensi kebijakan suku bunga antarbank sentral global juga menambah volatilitas. Perlambatan ekonomi Tiongkok dan Eropa juga menjadi risiko yang perlu diwaspadai. Sementara itu, dari sisi domestik, peningkatan permintaan valuta asing oleh korporasi seiring aktivitas ekonomi, pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta kondisi fiskal yang sempat menjadi sorotan, turut memengaruhi pergerakan rupiah.

Bank Indonesia Perkuat Stabilisasi

Menyikapi dinamika ini, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah. BI melakukan intervensi di pasar spot valuta asing, pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri (offshore). Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara terukur.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan, “Kami berkomitmen penuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah melalui bauran kebijakan moneter, termasuk intervensi di pasar spot dan DNDF.” BI juga mempertahankan BI-Rate di level 4,75% untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi. Langkah-langkah ini didukung oleh cadangan devisa Indonesia yang pada akhir Januari 2026 tercatat sebesar US$154,6 miliar, cukup untuk membiayai 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional.

Untuk meningkatkan efektivitas operasi moneter valuta asing, BI juga telah mengeluarkan Peraturan Anggota Dewan Gubernur (PADG) Nomor 2 Tahun 2026 yang menyederhanakan karakteristik instrumen Term Deposit Valuta Asing (TD Valas) dengan menghapus fitur pengurangan Posisi Devisa Neto (PDN).

Proyeksi dan Optimisme Jangka Menengah

Meskipun menghadapi tekanan, prospek rupiah dalam jangka menengah dinilai stabil dengan kecenderungan menguat. Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memproyeksikan nilai tukar rupiah akan relatif stabil di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS pada akhir tahun 2026. Optimisme ini didukung oleh fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, tercermin dari imbal hasil investasi yang menarik, inflasi yang rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat.

Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal akan tetap baik, didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing yang berkelanjutan sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional. BI juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan menarik investasi asing langsung guna memperkuat pasokan valuta asing.