Rupiah Dinilai ‘Undervalued’, Model Bloomberg Proyeksikan Nilai Wajar Rp15.400-an per Dolar AS

Author Image

Hodak

26 Februari 2026

rupiah, dolar as, bank indonesia, nilai tukar, ekonomi indonesia

terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menjadi sorotan di pasar keuangan domestik. Pada Kamis, 26 Februari 2026, rupiah terpantau bergerak di kisaran Rp16.756 hingga Rp16.759 per di pasar spot. Meskipun demikian, (BI) secara tegas menyatakan bahwa rupiah saat ini berada dalam posisi undervalued atau dinilai terlalu rendah jika dibandingkan dengan fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya.

Pernyataan Gubernur BI Perry Warjiyo yang menyoroti ketidaksesuaian antara nilai pasar dan fundamental ini memicu pertanyaan mengenai berapa sebenarnya nilai wajar rupiah. Berdasarkan perhitungan model Behavioral Equilibrium Exchange Rate (BEER) dari Bloomberg, nilai wajar rupiah seharusnya berada di kisaran Rp15.446 per dolar AS. Angka ini jauh lebih kuat dibandingkan level perdagangan saat ini yang beberapa kali menyentuh rentang Rp16.700-an hingga Rp16.900-an per dolar AS, bahkan sempat mendekati level psikologis baru Rp17.000 per dolar AS tahun ini.

Faktor Penekan Rupiah di Awal 2026

Pelemahan rupiah di awal tahun 2026 tidak terlepas dari kombinasi tekanan eksternal dan faktor domestik. Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebutkan bahwa ketegangan geopolitik global, seperti konflik di Timur Tengah, dinamika politik di AS, hingga serangan Ukraina ke kilang minyak Rusia, menciptakan ketidakpastian yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain itu, ketidakpastian kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama, turut memicu penguatan dolar AS dan aliran modal keluar dari pasar negara berkembang. Data ekonomi dan manufaktur AS yang lebih kuat dari perkiraan, seperti indeks Dallas Fed Manufacturing dan Chicago National Index, juga memperkuat posisi dolar AS.

Dari sisi domestik, kondisi fiskal yang belum sepenuhnya kuat menjadi salah satu pemicu. Defisit APBN 2025 tercatat mencapai 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dan defisit APBN 2026 diarahkan sekitar 2,68 persen dari PDB. Lemahnya arus masuk investasi langsung (FDI) dan portofolio modal, serta ketidaksesuaian antara permintaan dan pasokan dolar di dalam negeri juga berkontribusi pada tekanan rupiah. Beberapa analis juga menyoroti skeptisisme terhadap program makanan gratis senilai 20 miliar dolar AS dan kekhawatiran tata kelola setelah penunjukan wakil gubernur baru oleh Presiden Prabowo sebagai faktor yang menambah kekhawatiran fiskal.

Langkah Stabilisasi Bank Indonesia

Menyikapi kondisi ini, Bank Indonesia terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah. BI secara konsisten mengarahkan kebijakan moneter untuk menjaga inflasi dalam sasaran 2,5±1 persen dan stabilitas nilai tukar rupiah pada tahun 2026 dan 2027. Upaya stabilisasi dilakukan melalui intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.

Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Februari 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen, suku bunga Deposit Facility 3,75 persen, dan suku bunga Lending Facility 5,50 persen. Keputusan ini sejalan dengan fokus BI untuk memperkuat stabilisasi rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Gubernur Perry Warjiyo juga menyatakan bahwa BI akan terus mencermati ruang penurunan suku bunga BI-Rate lebih lanjut jika inflasi tetap terkendali.

Proyeksi Nilai Tukar Rupiah ke Depan

Meskipun menghadapi tekanan, BI memandang nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat dengan langkah-langkah stabilisasi yang terus dilakukan, didukung oleh fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, imbal hasil menarik, inflasi rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang meningkat.

Beberapa ekonom juga memberikan proyeksi beragam. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memperkirakan rupiah akan relatif stabil di kisaran Rp16.700-Rp16.800 per dolar AS pada akhir tahun 2026. Sementara itu, Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto memproyeksikan rupiah berpeluang menguat mendekati asumsi APBN di kisaran Rp16.500 per dolar AS pada Agustus hingga akhir tahun ini, terutama jika tekanan global mereda dan investasi langsung meningkat. Namun, Kepala Ekonom dan Strategi Makro HSBC untuk India dan ASEAN, Pranjul Bhandari, memiliki pandangan yang lebih pesimis, memproyeksikan rupiah dapat terdepresiasi hingga Rp17.000 per dolar AS pada akhir 2026, terutama akibat lemahnya arus modal jangka panjang.

Asumsi nilai tukar rupiah dalam APBN 2026 sendiri ditetapkan sebesar Rp16.500 per dolar AS. Model makro global Trading Economics dan ekspektasi analis memperkirakan rupiah akan diperdagangkan pada 16831,67 pada akhir kuartal ini dan 16567,90 dalam 12 bulan ke depan.