Rupiah Diproyeksi Fluktuatif di Rp16.700-Rp16.850, Tekanan Global Masih Dominan

Author Image

Bejo

27 Februari 2026

rp16, rupiah, diproyeksi, pasar, ekonomi

Nilai tukar rupiah diperkirakan akan bergerak fluktuatif pada perdagangan Jumat, 27 Februari 2026, dengan proyeksi berada di kisaran Rp16.700 hingga Rp16.850 per dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan ini masih sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal, terutama perkembangan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) dan dinamika geopolitik global.

Sebelumnya, rupiah menunjukkan penguatan pada Kamis (26/2/2026), dibuka melesat 44 poin atau 0,26% ke level Rp16.756 per dolar AS di pasar spot Bloomberg. Pada sesi siang hari yang sama, pasangan USD/IDR diperdagangkan di sekitar Rp16.754, melemah tipis 0,08%, dengan volatilitas yang relatif terjaga dalam rentang harian Rp16.742,3-Rp16.781,9. Penguatan ini melanjutkan apresiasi sehari sebelumnya, di mana rupiah ditutup menguat 29 poin atau 0,17% ke Rp16.800 per dolar AS pada Rabu (25/2/2026).

Faktor Penekan dari Global

Tekanan utama terhadap rupiah datang dari ekspektasi suku bunga AS yang bertahan tinggi lebih lama. CME FedWatch Tool melaporkan probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga stabil pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Maret 2026 meningkat menjadi 94%. Data ekonomi AS yang relatif solid dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tetap atraktif turut memperkuat dolar AS sebagai aset aman, mendorong pergeseran arus modal global.

Selain itu, ketidakpastian kebijakan perdagangan AS, termasuk potensi penerapan tarif tambahan hingga 15% oleh Presiden Donald Trump, juga memicu kewaspadaan pasar. Dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya perundingan nuklir AS-Iran, juga menjadi sorotan yang dapat memengaruhi pergerakan pasar valuta asing.

Langkah Stabilisasi Bank Indonesia

Bank Indonesia (BI) secara konsisten mempertahankan suku bunga acuannya (BI-Rate) di level 4,75% pada Februari 2026, sebuah keputusan yang diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Februari 2026. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa kebijakan ini konsisten dengan fokus utama bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

BI juga terus memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing, baik transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri. Langkah ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas eksternal dan ketahanan ekonomi nasional.

Dukungan Fundamental Domestik

Di sisi domestik, fundamental makroekonomi Indonesia masih relatif solid. Pertumbuhan ekonomi pada Triwulan IV 2025 mencapai 5,39% secara tahunan (YoY), lebih tinggi dari triwulan sebelumnya, didukung oleh permintaan domestik yang kuat, terutama konsumsi rumah tangga dan investasi. Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 6% pada tahun 2026.

Inflasi juga tetap terkendali dalam sasaran 2,5% ± 1% untuk tahun 2026. Meskipun inflasi Januari 2026 sempat terakselerasi menjadi 3,55% karena efek dasar rendah tahun sebelumnya, inflasi inti tercatat rendah di level 1,33%, memberikan ruang bagi pemerintah untuk mendorong ekonomi secara lebih ekspansif. Selain itu, ketahanan eksternal Indonesia ditopang oleh surplus perdagangan yang terjaga dan cadangan devisa yang memadai, mencapai USD156,5 miliar pada akhir Desember 2025.

Meski demikian, analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut prospek pelonggaran kebijakan pemerintah maupun peluang pemangkasan suku bunga BI masih menjadi faktor negatif bagi rupiah. Sementara itu, lonjakan penerimaan pajak pemerintah sebesar 30,7% secara tahunan hingga akhir Januari sedikit meredakan kekhawatiran pasar terhadap isu defisit fiskal.