Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan Jumat, 27 Februari 2026, melanjutkan tren negatif yang telah berlangsung sejak awal tahun. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda dibuka terdepresiasi 23 poin atau 0,14 persen ke level Rp 16.782 per dolar Amerika Serikat (AS). Sementara itu, data Refinitiv mencatat rupiah berada di posisi Rp 16.755 per dolar AS pada pembukaan pagi ini, terdepresiasi 0,03 persen.
Pelemahan ini bukan fenomena baru, mengingat rupiah telah berada dalam tekanan sejak akhir 2025, ditutup pada kurs Rp 16.670 per dolar AS pada 31 Desember 2025. Sepanjang Januari 2026, rupiah bahkan sempat terpuruk mendekati level Rp 17.000 per dolar AS, dengan catatan Rp 16.896 pada 15 Januari dan Rp 16.954 pada 19 Januari.
Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai bahwa pelemahan rupiah merupakan akumulasi dari berbagai sentimen eksternal dan fundamental dalam negeri, bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal. Dari sisi global, kebijakan moneter Amerika Serikat menjadi pemicu dominan. Federal Reserve yang mempertahankan suku bunga tinggi membuat aset berbasis dolar AS semakin menarik bagi investor global, mendorong arus modal keluar dari negara berkembang seperti Indonesia. “Ketika Federal Reserve mempertahankan suku bunga pada level yang tinggi, aset keuangan berbasis dolar AS menjadi lebih menarik bagi investor global,” ujar Yusuf Rendy Manilet.
Selain itu, ketegangan geopolitik global yang meningkat di awal 2026, termasuk konflik di Venezuela, dinamika hubungan China dan Taiwan, serta situasi di Timur Tengah dan Ukraina-Rusia, turut meningkatkan persepsi risiko. Kondisi ini mendorong investor untuk beralih ke aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi negara maju. “Situasi ini mendorong investor global untuk lebih hati-hati defensif dan mengalihkan portofolio mereka ke aset-aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi negara maju,” tambah Manilet. Data ekonomi AS yang lebih kuat dari ekspektasi, seperti klaim awal tunjangan pengangguran yang rendah, juga turut memperkuat dolar AS.
Di ranah domestik, kebutuhan valuta asing yang tinggi dari korporasi besar seperti Pertamina, PLN, dan Danantara, serta persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dalam negeri yang belum sepenuhnya kuat, turut menekan rupiah. Defisit APBN 2025 yang tercatat mencapai 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi salah satu perhatian.
Aksi jual surat utang pemerintah Indonesia (SBN) oleh investor asing juga menjadi sorotan. Tercatat, investor asing membukukan jual neto sebesar Rp 2,69 triliun di pasar SBN pada periode 18-19 Februari 2026. Secara kumulatif, hingga 19 Februari 2026, investor asing mencatatkan jual neto sebesar Rp 0,9 triliun di pasar SBN. Namun, di sisi lain, pemerintah berhasil menyerap sekitar Rp 152 triliun dari empat kali lelang Surat Utang Negara (SUN) sepanjang Januari-Februari 2026, menunjukkan permintaan investor yang masih solid. Selain itu, pemerintah juga sukses menerbitkan global bond berdenominasi dolar AS senilai US$ 2,7 miliar atau setara Rp 45,34 triliun pada Januari 2026, dengan total permintaan mencapai US$ 7,7 miliar. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyatakan bahwa capaian ini menunjukkan minat investor global terhadap SBN Indonesia masih cukup tinggi.
Menyikapi tekanan ini, Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Februari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen. Keputusan ini diambil sebagai upaya memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global dan untuk menjaga inflasi tetap dalam sasaran 2,5±1 persen pada 2026-2027. BI memandang nilai tukar rupiah saat ini telah undervalued dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, BI terus mengintensifkan stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Di pasar obligasi, yield SBN 10 tahun tercatat turun menjadi 6,39 persen pada 27 Februari 2026. Mandiri Sekuritas memproyeksikan yield SBN tenor 10 tahun akan bergerak dalam kisaran 5,80–6,20 persen sepanjang 2026, dengan asumsi BI-Rate berada di level 4,25 persen.