Rupiah Lanjutkan Penguatan, Tembus Rp16.744 per Dolar AS Didukung Sentimen Global

Author Image

Hodak

26 Februari 2026

rupiah, dolar as, mata uang asia, bank indonesia, ekonomi indonesia

Nilai tukar kembali menunjukkan performa positif pada Kamis (26/2/2026), melanjutkan tren penguatan selama dua hari berturut-turut di tengah sentimen pasar Asia yang optimistis. Mata uang Garuda dibuka menguat signifikan, mencapai level Rp16.744 per dolar Amerika Serikat (AS), naik 56 poin atau 0,33% dari penutupan sebelumnya di Rp16.800 per .

Pada penutupan perdagangan hari ini, rupiah tercatat menguat 0,18% dan dibanderol pada level Rp16.755 per dolar AS. Penguatan ini sejalan dengan pelemahan indeks dolar AS secara global yang turut memicu euforia di pasar .

Faktor Pendorong Penguatan Rupiah dan Mata Uang Asia

Sejumlah faktor eksternal menjadi pendorong utama apresiasi rupiah. Pelemahan dolar AS global menjadi katalis positif bagi mayoritas mata uang di kawasan Asia. Selain itu, komitmen Presiden AS Donald Trump untuk mempertahankan kebijakan tarif perdagangan telah meningkatkan ketidakpastian arah kebijakan perdagangan AS di masa depan, yang pada gilirannya meredam permintaan terhadap dolar AS. Pernyataan Trump ini mendorong investor untuk mengalihkan aset berdenominasi dolar AS.

Sentimen “risk-on” di pasar ekuitas global juga berperan penting, mendorong aliran dana ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga menopang mata uang domestik. Di sisi regional, bank sentral China kembali menetapkan kurs referensi (fixing) yuan yang lebih kuat selama dua hari berturut-turut, membawa yuan ke level terkuat sejak April 2023. Kondisi ini menciptakan sentimen positif yang merambat ke mata uang Asia lainnya.

Mayoritas mata uang Asia lainnya juga mencatat penguatan terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini. Won Korea Selatan memimpin apresiasi dengan kenaikan 0,41%, diikuti oleh yen Jepang yang naik 0,3%, dan yuan China menguat 0,23%. Ringgit Malaysia terapresiasi 0,19%, dolar Singapura naik 0,11%, dan baht Thailand menguat tipis 0,03%. Secara keseluruhan, indeks MSCI Asia Pacific melonjak 1,23% seiring meredanya kekhawatiran terhadap potensi disrupsi kecerdasan buatan (AI).

Kebijakan Bank Indonesia dan Proyeksi Ekonomi 2026

Di tengah dinamika pasar global, (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Februari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate pada level 4,75%. Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal dan memastikan inflasi tetap terkendali sesuai target 2,5% ± 1% untuk tahun 2026-2027, sekaligus mendukung momentum pertumbuhan ekonomi domestik. BI juga menegaskan akan terus memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan makroprudensial, serta melakukan intervensi di pasar NDF dan spot untuk menstabilkan rupiah.

Prospek ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 juga menunjukkan optimisme. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 akan berada di atas 5,4%. Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyebut lonjakan belanja pemerintah yang diperkirakan mencapai Rp800 triliun pada kuartal I 2026, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang sekitar Rp600 triliun, sebagai salah satu pendorong utama. Selain itu, faktor musiman seperti Ramadan dan Idulfitri yang jatuh pada Februari hingga Maret 2026 diperkirakan akan mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan menegaskan optimismenya bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai angka 6% pada tahun 2026, dengan mengandalkan pengaktifan sektor swasta dan stimulus pemerintah. Bank Indonesia sendiri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di 2026 akan berada dalam rentang 4,9-5,7%. Meskipun demikian, beberapa analis mencatat bahwa rupiah secara year-to-date (YTD) masih mencatat pelemahan sekitar 0,48% hingga 26 Februari 2026, menunjukkan bahwa tantangan eksternal dan dinamika global masih perlu terus dicermati.