Rupiah Menguat di Pasar Spot, Bayangi Tekanan NDF dan Ketidakpastian Global

Author Image

Hodak

27 Februari 2026

rupiah, dolar as, nilai tukar, bank indonesia, kebijakan tarif as

menunjukkan pergerakan yang bervariasi di tengah dinamika pasar keuangan global dan domestik. Pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, mata uang Garuda terpantau menguat di pasar spot, namun tekanan masih terasa di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) offshore.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.15 WIB, rupiah melesat 44 poin atau 0,26 persen, mencapai level Rp 16.756 per dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan ini berlanjut hingga penutupan perdagangan, di mana rupiah ditutup menguat 41 poin atau setara 0,24 persen ke posisi Rp 16.759 per , dari sebelumnya Rp 16.800 per dolar AS. Data dari Yahoo Finance juga mencatat penguatan serupa, dengan rupiah berada di Rp 16.750 per dolar AS, naik 58 poin atau 0,35 persen dari penutupan sebelumnya di Rp 16.808 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di level Rp 16.758 per dolar AS, menguat dari Rp 16.813 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.

Meskipun demikian, di pasar NDF offshore, kontrak rupiah terhadap dolar AS justru mengalami pelemahan. Rupiah offshore tercatat turun 0,11 persen menjadi Rp 16.801 per dolar AS pada hari yang sama. Pelemahan ini terjadi di tengah koreksi dolar AS yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik pasca pidato kenegaraan Presiden AS Donald Trump.

Sentimen Global dan Kebijakan AS Jadi Sorotan

Pergerakan rupiah sangat dipengaruhi oleh sejumlah sentimen eksternal. Salah satu faktor dominan adalah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) AS yang diperkirakan akan bertahan tinggi lebih lama. CME FedWatch Tool melaporkan probabilitas The Fed untuk mempertahankan suku bunga stabil pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Maret 2026 telah meningkat tajam menjadi 94 persen.

Selain itu, kebijakan tarif perdagangan yang kembali diusung oleh Presiden AS Donald Trump juga menjadi perhatian utama pelaku pasar. Trump menegaskan komitmennya untuk mempertahankan kebijakan tarif, bahkan mengancam akan menaikkan tarif sementara dari 10 persen menjadi 15 persen untuk impor AS dari semua negara. Kebijakan ini dinilai dapat meningkatkan ketidakpastian arah perdagangan global dan meredam permintaan terhadap dolar AS. Seorang analis yang dikutip Bloomberg News menyatakan, “Perang tarif tidak berdampak baik bagi dolar AS pada 2025, dan kami tidak melihat hal itu akan menguntungkan dolar AS pada 2026, karena kebijakan tersebut terus membuat AS terlihat sebagai agen deglobalisasi, dan dengan demikian berpotensi menyebabkan dolar AS kehilangan statusnya sebagai mata uang cadangan.”

Ketegangan geopolitik, seperti konflik yang berlanjut di kancah internasional termasuk antara AS dan Iran, turut meningkatkan premi risiko global. Kondisi ini mendorong investor untuk beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS, yang pada gilirannya menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.

Langkah Stabilisasi Bank Indonesia dan Proyeksi Rupiah

Menyikapi dinamika pasar, (BI) terus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Februari 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75 persen. Keputusan ini konsisten dengan upaya penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, sekaligus mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa nilai tukar rupiah saat ini dinilai terlalu rendah (undervalued) dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Untuk itu, BI berkomitmen untuk terus meningkatkan intensitas stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, maupun NDF offshore. BI memandang nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat ke depan, didukung oleh kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang baik, seperti imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat.

Secara keseluruhan, BI memproyeksikan rata-rata pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada 2026 akan berada di rentang Rp 16.000-16.500 per dolar AS. Namun, beberapa ekonom memiliki proyeksi yang lebih luas, dengan perkiraan fluktuasi di rentang Rp 16.200-17.200 per dolar AS. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, bahkan melihat peluang rupiah menguat ke Rp 15.700-16.000 per dolar AS pada akhir 2026, seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed dan membaiknya risk-appetite global.