Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan terbatas terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, melanjutkan tren positif selama dua hari berturut-turut. Penguatan ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75%.
Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang berlangsung pada 18-19 Februari 2026. Selain BI-Rate, suku bunga Deposit Facility juga dipertahankan pada 3,75%, sementara suku bunga Lending Facility tetap berada di level 5,5%.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa kebijakan ini konsisten dengan fokus utama bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global. Langkah ini juga bertujuan untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2,5% ± 1% pada tahun 2026, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Pada penutupan perdagangan Jumat (20/2/2026), rupiah tercatat menguat 0,4% ke posisi Rp16.873 per dolar AS, menurut data Bloomberg Technoz. Sementara itu, data Refinitiv menunjukkan rupiah ditutup di level Rp16.860 per dolar AS, menguat tipis 0,06%. Meskipun sempat berfluktuasi dan melemah di awal perdagangan, rupiah berhasil kembali ke zona hijau menjelang penutupan.
Keputusan BI untuk menahan suku bunga acuan ini sejalan dengan ekspektasi mayoritas pelaku pasar dan ekonom. Ekonom Bloomberg Economics, Tamara Mast Henderson, sebelumnya menyebutkan bahwa BI kemungkinan akan tetap berhati-hati karena kinerja rupiah yang masih tertinggal dibandingkan mayoritas mata uang Asia dan emerging markets. Senada, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), David Sumual, menilai masih adanya arus keluar modal asing (net outflow) dan sedikit peningkatan inflasi pada Januari menjadi pertimbangan utama BI.
Meskipun mencatat penguatan dalam dua hari terakhir, rupiah secara keseluruhan telah menyusut sekitar 0,2% sepanjang pekan ini. BI menegaskan pandangannya bahwa rupiah masih berada di bawah nilai wajarnya (undervalued) dan berkomitmen untuk mempertahankan intervensi aktif di pasar valuta asing, didukung oleh cadangan devisa yang kuat.
Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati ruang penurunan BI-Rate, dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi ekonomi global dan domestik. Selain itu, kebijakan makroprudensial BI juga akan tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan pembiayaan ke sektor riil, khususnya sektor-sektor prioritas pemerintah.