Nilai tukar rupiah menunjukkan performa positif dengan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) selama dua hari berturut-turut pada Kamis, 26 Februari 2026. Penguatan ini didorong oleh sentimen positif yang melanda pasar keuangan Asia serta pelemahan dolar AS secara global.
Pada pembukaan perdagangan pagi, rupiah tercatat melesat ke berbagai level. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.15 WIB, rupiah menguat 44 poin atau 0,26% ke level Rp 16.756 per dolar AS. Sementara itu, data dari Metro TV menunjukkan rupiah naik 37 poin atau 0,22% menjadi Rp 16.762 per dolar AS pada pukul 09.56 WIB. ANTARA News melaporkan penguatan 56 poin atau 0,33% ke Rp 16.744 per dolar AS di pagi hari. Di pasar spot, rupiah ditutup menguat Rp 41 atau 0,24% menjadi Rp 16.759 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat penguatan 55 poin atau 0,33% ke posisi Rp 16.758 per dolar AS.
Penguatan ini melanjutkan tren positif dari hari sebelumnya, Rabu (25/2/2026), di mana rupiah ditutup menguat 29 poin di level Rp 16.800 per dolar AS. Indeks dolar AS sendiri terlihat melemah tipis 0,05% pada sore hari, setelah sempat susut 0,11% pada pembukaan.
Sentimen Positif Asia dan Pelemahan Dolar AS Jadi Katalis
Mayoritas mata uang di kawasan Asia turut menikmati euforia penguatan terhadap dolar AS. Yuan China memimpin apresiasi setelah bank sentralnya kembali menetapkan kurs referensi yang lebih kuat selama dua hari berturut-turut. Selain itu, Won Korea Selatan juga memimpin penguatan dengan apresiasi 0,41%, diikuti Yen Jepang yang naik 0,3%, dan Yuan China menguat 0,23%. Ringgit Malaysia terapresiasi 0,19%, disusul dolar Singapura yang naik 0,11%, dan baht Thailand menguat tipis 0,03%.
Analis dari OCBC Group Research menyatakan, “Dolar AS kemungkinan akan bergerak melemah, sementara sentimen risiko positif yang berkelanjutan dapat mendukung arus masuk dana asing ke kawasan ini.” Sentimen risk-on di pasar ekuitas global juga turut menopang penguatan rupiah.
Faktor Eksternal dan Domestik yang Mempengaruhi
Meskipun sentimen positif mendominasi, pasar tetap mencermati beberapa faktor eksternal. Salah satunya adalah kebijakan tarif impor global sementara sebesar 10% yang mulai diberlakukan oleh Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump, dengan potensi kenaikan menjadi 15%. Langkah ini memicu ketidakpastian perdagangan global dan kekhawatiran inflasi. Ketegangan geopolitik, seperti perundingan antara AS dan Iran di Jenewa, juga menjadi fokus perhatian pelaku pasar.
Dari sisi domestik, beberapa indikator ekonomi menunjukkan kondisi yang mendukung. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 mencapai 5,39%, menjadi yang tertinggi di antara negara-negara anggota G20. Proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 diperkirakan lebih tinggi, didorong oleh percepatan realisasi belanja negara yang ditargetkan mencapai Rp 800 triliun, efek dasar rendah (low base effect), serta periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri. Penerimaan pajak pemerintah juga menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 30,7% secara tahunan hingga akhir Januari.
Komitmen Bank Indonesia dan Proyeksi Rupiah 2026
Bank Indonesia (BI) terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Februari 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate sebesar 4,75%. Keputusan ini diambil dengan fokus utama pada stabilisasi rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Gubernur BI, Perry Warjiyo, memperkirakan rata-rata pergerakan nilai tukar rupiah pada tahun 2026 akan berada di rentang Rp 16.000-16.500 per dolar AS. Proyeksi ini didasari oleh fundamental ekonomi Indonesia yang stabil dan menguat, inflasi yang rendah, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang menarik, serta cadangan devisa yang cukup besar. BI memandang nilai tukar rupiah saat ini dinilai rendah (undervalued) dibandingkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
Meskipun demikian, analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak fluktuatif dan berpotensi ditutup melemah di rentang Rp 16.800 per dolar AS hingga Rp 16.830 per dolar AS. Sementara itu, analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa pergerakan rupiah selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan perundingan AS-Iran dan kebijakan perdagangan AS.