Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan tipis pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026, bergerak di kisaran Rp16.744 hingga Rp16.756 per dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.15 WIB di pasar spot exchange, rupiah melesat 44 poin atau 0,26% ke level Rp16.756 per dolar AS. Penguatan ini juga tercatat pada pembukaan perdagangan di Jakarta, di mana rupiah menguat 56 poin atau 0,33% dibandingkan posisi sebelumnya di Rp16.800 per dolar AS.
Meskipun demikian, pergerakan rupiah dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan volatilitas. Pada 18 Februari 2026, nilai tukar rupiah tercatat sebesar Rp16.880 per dolar AS, melemah sekitar 0,56% dibandingkan akhir Januari 2026. Bahkan, pada 20 Januari 2026, rupiah sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah di Rp16.988 per dolar AS. Kondisi ini membuat rupiah menjadi salah satu mata uang terlemah di dunia pada awal 2026, menempati urutan kelima menurut daftar Forbes.
Faktor Global dan Domestik Pengaruhi Pergerakan Rupiah
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bahwa nilai tukar rupiah saat ini dinilai rendah atau undervalued dibandingkan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang solid. Perry menyebut, tingginya ketidakpastian pasar keuangan global menjadi salah satu penyebab utama pelemahan mata uang domestik. Selain itu, ekspektasi suku bunga AS yang bertahan tinggi lebih lama juga turut memicu pergeseran arus modal global menuju aset berbasis dolar AS, sehingga menekan rupiah.
Di sisi domestik, peningkatan permintaan valuta asing (valas) dari korporasi seiring dengan kenaikan kegiatan ekonomi juga memberikan tekanan pada nilai tukar. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menambahkan bahwa pelemahan rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen global. Ia menilai kondisi ini tidak perlu dikhawatirkan masyarakat luas, kecuali bagi mereka yang memiliki kebutuhan impor tinggi atau membiayai pendidikan di luar negeri.
Sentimen risk-on global yang mendorong penguatan mata uang Asia, serta komitmen Presiden AS Donald Trump untuk mempertahankan kebijakan tarif perdagangan, juga turut memengaruhi dinamika dolar AS dan rupiah. Namun, risiko fiskal domestik, seperti defisit anggaran yang mendekati batas 3% dan skeptisisme terhadap program pemerintah senilai USD 20 miliar, juga menjadi perhatian investor.
Langkah Stabilisasi Bank Indonesia dan Proyeksi ke Depan
Menyikapi tekanan ini, Bank Indonesia menyatakan akan terus meningkatkan intensitas stabilisasi nilai tukar rupiah. Langkah-langkah yang diambil meliputi intervensi di pasar NDF (Non-Deliverable Forward) luar negeri (off-shore) serta transaksi spot dan DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) di pasar dalam negeri. Pada 19 Februari 2026, BI juga memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75% guna menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Gubernur Perry Warjiyo optimistis nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat ke depan, didukung oleh fundamental ekonomi Indonesia yang tetap baik, tercermin dari imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat. BI juga berencana memperdalam pasar valas rupiah–yuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Proyeksi nilai tukar rupiah untuk akhir tahun 2026 bervariasi. Bank Indonesia memperkirakan rata-rata pergerakan rupiah akan berada di rentang Rp16.000-16.500 per dolar AS. Sementara itu, Josua Pardede dari Permata Bank memproyeksikan rupiah akan stabil di kisaran Rp16.675-Rp16.775 per dolar AS pada akhir 2026. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bahkan memproyeksikan rupiah dapat bergerak di rentang Rp16.678 hingga Rp17.098 per dolar AS. Kepala Ekonom BCA David Sumual memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.700 – Rp16.900 per dolar AS pada kuartal I 2026.