Rupiah Menguat Tipis di Tengah Gejolak Global, Ditopang De-eskalasi Konflik Timur Tengah

rupiah, nilai tukar, bank indonesia, ekonomi indonesia, dolar as

menunjukkan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis, 26 Maret 2026. Mata uang Garuda berhasil ditutup di level Rp16.895 per , menguat 0,06% berdasarkan data Refinitiv. Penguatan ini melanjutkan tren positif setelah pada pembukaan perdagangan pagi, Rupiah sempat melesat lebih signifikan hingga 0,21% ke level Rp16.870 per dolar AS.

Kinerja Rupiah ini terbilang menarik mengingat mayoritas mata uang di kawasan Asia justru bergerak melemah pada hari yang sama. Sentimen positif yang menopang penguatan Rupiah salah satunya datang dari potensi meredanya ketegangan konflik antara AS dan Iran. Kabar tersebut memicu penurunan harga minyak mentah global sekitar 6%, yang pada gilirannya meredakan kekhawatiran akan lonjakan inflasi.

Bank Indonesia Jaga Stabilitas di Tengah Ketidakpastian

Di tengah dinamika global, (BI) terus menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Sebelumnya, dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 16-17 Maret 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75% selama enam bulan berturut-turut. Suku bunga Deposit Facility juga tetap di 3,75%, sementara Lending Facility dipertahankan di 5,50%.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil untuk memperkuat stabilitas Rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah. BI juga bertekad untuk menjaga pencapaian sasaran inflasi 2026-2027. Bank sentral siap melakukan intervensi di pasar valuta asing jika diperlukan untuk meredam gejolak.

Faktor Domestik dan Proyeksi Ekonomi

Dari sisi domestik, pemerintah juga berupaya menjaga ketahanan ekonomi. Kementerian Keuangan merancang efisiensi anggaran dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sebesar Rp81 triliun. Langkah ini merupakan antisipasi terhadap dampak rambatan dari konflik di Timur Tengah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa APBN akan tetap terkendali di bawah 3% dari PDB.

Meskipun demikian, Indeks Dolar AS (DXY) terpantau menguat tipis 0,09% pada sore hari, menunjukkan bahwa tekanan eksternal masih ada. Namun, Rupiah mampu menunjukkan resiliensi. Para ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal I 2026 akan berada di rentang 5,1% hingga 5,2%. Konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan ini. Namun, eskalasi konflik di Timur Tengah dan tekanan harga energi global tetap menjadi tantangan yang perlu diwaspadai bagi prospek pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nilai tukar Rupiah ke depan.