Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan signifikan di awal Maret 2026, seiring dengan eskalasi konflik di Timur Tengah yang semakin memanas. Ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat telah memicu kekhawatiran global, mendorong investor untuk beralih ke aset yang lebih aman dan membatasi ruang gerak mata uang Garuda.
Pada perdagangan Senin (2/3/2026), rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) sempat dibuka menguat tipis 0,14%, namun penguatan tersebut menyusut drastis menjadi hanya 0,03% dan diperdagangkan di level Rp16.798 per dolar AS. Kondisi ini mencerminkan sentimen pasar yang sangat berhati-hati di tengah ketidakpastian geopolitik.
Eskalasi Konflik dan Ancaman Selat Hormuz
Pemicu utama tekanan ini adalah serangan Israel ke Teheran pada Sabtu (28/2/2026) yang dilaporkan memicu ledakan besar, diikuti oleh respons Iran dengan rentetan serangan rudal. Situasi semakin genting setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas pada hari yang sama, dan Garda Revolusi Iran mengumumkan rencana serangan balasan terbesar dalam sejarah.
Ancaman terbesar bagi ekonomi global, termasuk Indonesia, datang dari potensi gangguan di Selat Hormuz. Iran dilaporkan telah menutup akses perlintasan kapal di jalur distribusi minyak dan gas utama dari Timur Tengah tersebut. Selat Hormuz merupakan rute krusial yang dilewati sekitar 20 hingga 30 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global setiap harinya.
Direktur Energi dan Pengilangan di ICIS, Ajay Parmar, menekankan bahwa faktor kunci yang menentukan arah harga minyak bukan hanya serangan militer, melainkan potensi penutupan Selat Hormuz. “Serangan militer memang mendukung kenaikan harga minyak, tetapi faktor utama di sini adalah penutupan Selat Hormuz,” ujarnya.
Lonjakan Harga Minyak dan Dampaknya
Akibat eskalasi ini, harga minyak dunia melonjak tajam. Pada penutupan perdagangan Jumat (27/2/2026), harga minyak mentah Brent naik 2,45% menjadi US$72,48 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,78% menjadi US$67,02 per barel. Pada Senin (2/3/2026), harga Brent bahkan melejit lebih dari 8% ke US$78,34 per barel, dan WTI melonjak 7,43% ke US$72 per barel.
Analis memperkirakan harga minyak dapat menembus US$100 per barel, bahkan berpotensi mencapai US$120 per barel, jika konflik berlarut-larut dan mengganggu distribusi di Selat Hormuz. Pengamat pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan, “(Tensi Israel dan Amerika Serikat dengan Iran) bisa menjadi babak baru konflik di Timur Tengah pada Maret 2026. Dampaknya, kemungkinan besar harga minyak mentah naik, sehingga akan berdampak terhadap turunannya.”
Bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga energi ini berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan dan mendorong inflasi domestik. Jika harga BBM domestik tidak disesuaikan, beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan membesar. Namun, jika disesuaikan, inflasi dan biaya logistik akan meningkat, menekan daya beli masyarakat.
Rupiah Tertekan Arus Modal Keluar dan Proyeksi Analis
Ketidakpastian global ini memicu pola risk-off di pasar keuangan, di mana investor cenderung menarik modal dari pasar negara berkembang dan mengalihkannya ke aset aman seperti dolar AS dan emas. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan, “Dampaknya bagi Indonesia umumnya muncul sebagai tekanan arus modal keluar, pelemahan rupiah, dan kenaikan imbal hasil surat berharga negara karena investor meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi.”
Ekonom Indef, Rizal Taufikurahman, menambahkan bahwa pelemahan rupiah di awal perdagangan lebih merupakan respons mekanis pasar terhadap risiko global daripada perubahan fundamental domestik. Ia juga mencatat bahwa posisi rupiah saat ini sudah berada pada level rentan, yakni di kisaran Rp16.800 per dolar AS.
Ibrahim Assuaibi memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di rentang Rp16.790 hingga Rp16.820 per dolar AS pada Senin (2/3/2026), dengan proyeksi pergerakan pekan ini di kisaran Rp16.750 hingga Rp16.900 per dolar AS. Bahkan, beberapa analis tidak menutup kemungkinan rupiah dapat menyentuh level Rp17.000 per dolar AS.
Langkah Bank Indonesia dan Kewaspadaan Pemerintah
Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Februari 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate di level 4,75%. Keputusan ini diambil sebagai strategi penguatan stabilisasi rupiah dan untuk memastikan inflasi 2026-2027 tetap terkendali dalam sasaran 2,5±1%.
BI menilai posisi rupiah saat ini masih berada di bawah nilai fundamentalnya (undervalued), dengan tercatat di level Rp16.880 per dolar AS per 18 Februari 2026. Namun, tekanan eksternal yang kuat menuntut kewaspadaan lebih.
Yukki dari Investor Daily mengingatkan, “Kedua hal ini perlu menjadi fokus perhatian pemerintah Indonesia agar segera mengkalkulasi kesiapan dalam menghadapi berbagai skenario lanjutan dari konflik ini bila berkepanjangan.” Potensi realokasi anggaran pembangunan ke arah perlindungan sosial juga menjadi pertimbangan jika beban subsidi energi meningkat.
Analis pasar modal, Hendra Wardana, juga mengingatkan bahwa pasar langsung merespons dengan pola risk-off. “Investor global cenderung keluar dari aset berisiko dan mencari perlindungan di aset safe haven,” katanya.