Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan pelemahan signifikan pada Senin, 2 Maret 2026, seiring dengan memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, AS, dan Israel. Ketegangan yang meningkat ini memicu kekhawatiran di pasar global, mendorong sejumlah analis memproyeksikan potensi pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp 17.000 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg pada pagi hari ini, rupiah dibuka melemah 0,27 persen ke level Rp 16.832 per dolar AS. Pergerakan ini melanjutkan tren depresiasi yang terlihat sejak penutupan perdagangan Jumat (27/2/2026) di level Rp 16.793 per dolar AS. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut rupiah diperkirakan akan melemah di tengah sentimen risk-off akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Eskalasi Konflik Iran-AS-Israel
Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah AS dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Serangan ini dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta sejumlah pejabat tinggi dan ratusan warga sipil. Iran merespons dengan meluncurkan serangan rudal balistik ke Israel dan beberapa pangkalan militer AS di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Ketegangan semakin meruncing dengan laporan serangan terhadap tiga kapal di Selat Hormuz pada Minggu (1/3/2026), yang mengakibatkan satu kapal tenggelam dan beberapa lainnya rusak. Garda Revolusi Iran bahkan mengklaim telah menghantam kapal induk AS, USS Abraham Lincoln, dengan empat rudal balistik di kawasan Teluk. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar 20 hingga 30 persen pasokan minyak mentah global, sehingga gangguan di wilayah ini memiliki dampak besar pada pasar energi dunia.
Harga Minyak Melonjak, Ancaman Inflasi Mengintai
Dampak langsung dari konflik ini terlihat jelas pada lonjakan harga minyak mentah dunia. Minyak mentah Brent tercatat melonjak 10-13 persen, mencapai sekitar USD 80-82 per barel pada perdagangan Senin (2/3/2026). Analis RBC, Helima Croft, memperingatkan bahwa harga minyak bisa melonjak di atas USD 100 per barel jika perang dengan Iran berlanjut. Bahkan, beberapa ekonom memperkirakan harga dapat menembus USD 100-120 per barel jika konflik berlangsung lebih dari dua pekan.
Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, turut menyoroti dampak serius dari perang di Iran. Ia memprediksi harga minyak dunia akan naik dan berpotensi memicu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia, mengingat Indonesia masih mengimpor minyak dari Timur Tengah. Lonjakan harga minyak ini berisiko mendorong inflasi global, menekan nilai tukar, dan memengaruhi kebijakan suku bunga bank sentral di berbagai negara.
Proyeksi Rupiah di Tengah Ketidakpastian
Di tengah gejolak global ini, proyeksi nilai tukar rupiah menjadi sorotan. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan pergerakan rupiah terhadap dolar AS akan berada di rentang Rp 16.678-17.098 pada tahun 2026, dengan potensi menembus Rp 17.000. Senada, Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, serta Infobank Institute juga memprediksi rupiah berpotensi terdepresiasi hingga Rp 17.000 per dolar AS.
Namun, terdapat pula proyeksi yang lebih stabil. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memprediksi nilai tukar rupiah akan berada pada level stabil Rp 16.700-16.800 per dolar AS pada akhir tahun 2026, meskipun dalam jangka pendek sentimen geopolitik dapat menekan rupiah. Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, memperkirakan rata-rata nilai tukar rupiah pada 2026 akan bergerak di kisaran Rp 16.430 per dolar AS. Sementara itu, Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto memproyeksikan rupiah akan menguat ke Rp 16.359 per dolar AS pada akhir 2026, didukung kondisi ekonomi yang stabil.
Pelemahan rupiah yang lebih dalam akan memicu inflasi barang impor, mengingat banyak bahan baku industri manufaktur Indonesia masih bergantung pada pasar luar negeri. Josua Pardede menambahkan, peningkatan ketegangan geopolitik global umumnya memicu pergeseran portofolio investor dari aset berisiko ke aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS, yang dapat menyebabkan arus modal keluar dari pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Seruan De-eskalasi dan Dampak Lebih Luas
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, telah mengecam serangan militer AS dan Israel terhadap Iran serta serangan balasan Iran, menyerukan de-eskalasi dan penghentian permusuhan segera. Sementara itu, Tiongkok mengambil posisi tegas menolak campur tangan dalam urusan internal negara lain.
Konflik yang meluas ini tidak hanya berdampak pada harga minyak dan nilai tukar mata uang, tetapi juga mengancam rantai pasok global dan stabilitas ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Beban subsidi BBM dan listrik di Indonesia berpotensi meningkat, memaksa pemerintah untuk merealokasi anggaran pembangunan ke arah perlindungan sosial.