Rupiah Tertekan Geopolitik dan Suku Bunga The Fed, Diproyeksi Melemah Awal Pekan

Nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren pelemahan pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (27/2/2026), dan diproyeksikan masih akan menghadapi tekanan di awal pekan ini, Senin (2/3/2026). Sentimen global yang memanas, khususnya di Timur Tengah, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter Federal Reserve () menjadi pemicu utama.

Pada Jumat (27/2/2026), rupiah ditutup melemah 28 poin atau sekitar 0,17 persen ke level Rp16.787 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg pada pukul 15.00 WIB. Angka ini melanjutkan pelemahan dari penutupan hari sebelumnya di Rp16.759 per dolar AS. Bahkan, pada pagi hari yang sama, rupiah sempat menyentuh level Rp16.780 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga mencatat pelemahan 0,12 persen secara harian ke Rp16.779 per dolar AS.

Memasuki perdagangan Senin (2/3/2026), pergerakan rupiah di pasar offshore (Non-Deliverable Forward/NDF) sempat menunjukkan penguatan terbatas 0,03 persen ke level Rp16.798 per dolar AS, setelah sebelumnya dibuka menguat 0,14 persen. Namun, para analis memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dan cenderung melemah. Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan ditutup melemah di rentang Rp16.790 hingga Rp16.820 per dolar AS pada hari ini. Senada, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, memprediksi rupiah bergerak di kisaran Rp16.700 – Rp16.850, sementara Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menempatkan rentang di Rp16.700 – Rp16.800.

Pelemahan rupiah ini tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Washington dilaporkan mengerahkan lebih banyak kapal ke Timur Tengah dan mengancam tindakan militer jika Teheran tidak menerima kesepakatan nuklir, memicu sentimen ‘risk-off’ di pasar global. Konflik yang berkepanjangan di kawasan ini berpotensi mendorong harga minyak mentah mencapai US$80 per barel, bahkan melonjak hingga US$108 per barel jika Selat Hormuz ditutup, yang pada gilirannya akan memicu inflasi global dan memperkuat daya tarik dolar AS sebagai aset aman.

Selain itu, ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed juga menjadi faktor penekan. Pasar kini mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat, dengan kemungkinan baru terjadi pada Juli 2026. Para pembuat kebijakan The Fed masih menyuarakan kekhawatiran atas tekanan inflasi yang terus berlanjut, sehingga mempertahankan sikap hati-hati. Kondisi ini diperparah dengan penguatan indeks dolar AS yang mencapai 97,9 pada pagi hari ini.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah ketidakpastian kebijakan perdagangan AS. Putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian besar wewenang Presiden Donald Trump terkait tarif perdagangan telah menambah keraguan di pasar. Ancaman Trump untuk menerapkan bea masuk global hingga 15 persen, serta pengenaan bea masuk imbalan oleh Departemen Perdagangan AS terhadap sel dan panel surya dari Indonesia sebesar 104,38 persen, juga menjadi sentimen negatif bagi rupiah.

Dari sisi domestik, kebutuhan valuta asing (valas) korporasi yang besar, termasuk dari Pertamina, PLN, dan Danantara, serta kondisi fiskal dalam negeri yang belum sepenuhnya kuat, turut berkontribusi pada pelemahan rupiah. Defisit APBN 2025 yang tercatat mencapai 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga menjadi perhatian pasar.

Meskipun demikian, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo sebelumnya menyatakan bahwa nilai tukar rupiah dinilai ‘undervalued’ atau di bawah nilai fundamentalnya. Perry menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik, termasuk geopolitik dan kebutuhan valas korporasi. Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus berada di pasar keuangan guna memastikan stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, serta menjaga pertumbuhan ekonomi dan inflasi tetap terkendali.

Para investor juga tengah menantikan rilis serangkaian data ekonomi penting Indonesia pada Senin (2/3/2026), seperti Indeks Manajer Pembelian (PMI) Manufaktur, Neraca Perdagangan, dan data inflasi, yang diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi ekonomi domestik.