Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal Maret 2026. Pelemahan ini dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah menyusul serangan gabungan AS-Israel ke Iran, yang memicu sentimen ‘risk-off’ di pasar keuangan global.
Pada Jumat (27/2/2026), rupiah ditutup melemah 0,17% secara harian ke level Rp 16.787 per dolar AS di pasar spot. Sementara itu, berdasarkan kurs JISDOR Bank Indonesia, rupiah juga terkoreksi 0,12% menjadi Rp 16.779 per dolar AS. Analis memproyeksikan pelemahan ini berpotensi berlanjut, bahkan dapat menyentuh level Rp 17.000 per dolar AS jika ketegangan geopolitik terus memanas.
Konflik AS-Israel vs Iran Memanas
Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan militer gabungan ke berbagai target di Iran pada 28 Februari 2026. Operasi yang dinamai ‘Roaring Lion’ oleh Israel dan ‘Operation Epic Fury’ oleh Departemen Pertahanan AS ini menyasar kota-kota penting seperti Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi Iran lainnya. Selain itu, setidaknya 108 anak-anak dilaporkan tewas di sebuah sekolah putri dekat Selat Hormuz. Iran merespons dengan meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di negara-negara Teluk, serta menyerang kapal AS MST. Presiden Iran Masoud Pezeshkian bersumpah akan membalas dendam, menyebut pembunuhan Khamenei sebagai “deklarasi perang terbuka terhadap umat Islam.”
Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran untuk tidak membalas, mengancam akan menggunakan “kekuatan yang belum pernah terlihat sebelumnya.” Sekretaris Pertahanan AS Pete Hegseth menggambarkan serangan ini sebagai “operasi udara paling mematikan, paling kompleks, dan paling presisi dalam sejarah.” Komunitas internasional, termasuk PBB, Brasil, Tiongkok, Afrika Selatan, dan India, menyerukan penghentian permusuhan segera.
Dampak ke Harga Minyak dan Emas Global
Eskalasi konflik ini segera memicu lonjakan harga komoditas global. Harga minyak mentah Brent melonjak 10% menjadi USD 80 per barel pada 2 Maret 2026, sementara minyak mentah WTI mencapai USD 67,02 per barel. Analis memprediksi harga minyak dapat terus meningkat, bahkan berpotensi menembus USD 100-108 per barel jika Selat Hormuz, jalur krusial bagi seperlima aliran minyak global, terganggu atau ditutup. Lonjakan harga minyak ini juga berisiko menghidupkan kembali inflasi global yang sebelumnya mulai mereda.
Emas, sebagai aset lindung nilai (safe haven), juga mengalami kenaikan signifikan. Harga emas dunia ditutup pada level USD 5.280 per troy ounce, dengan harga emas batangan di dalam negeri mencapai Rp 3.085.000 per gram.
Tekanan pada Rupiah dan Respons Bank Indonesia
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa peningkatan ketegangan geopolitik global umumnya memicu pergeseran portofolio investor dari aset berisiko ke aset aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS. Kondisi ini menyebabkan arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, dan menekan nilai tukar rupiah.
Dampak konflik terhadap Indonesia dinilai lebih besar melalui jalur energi dan keuangan dibandingkan perdagangan langsung, mengingat Indonesia adalah net importir energi. Kenaikan harga minyak akan memperbesar kebutuhan valuta asing untuk impor BBM, menambah tekanan pada rupiah.
Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga stabilitas. Pada rapat Dewan Gubernur 18-19 Februari 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75% guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung target inflasi 2026-2027. BI juga melakukan intervensi untuk menstabilkan rupiah, yang berkontribusi pada penurunan cadangan devisa menjadi USD 154,6 miliar pada akhir Januari 2026, dari USD 156,5 miliar pada Desember 2025.
Proyeksi Ekonomi Indonesia di Tengah Ketidakpastian
Meskipun menghadapi tekanan eksternal, fundamental ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan. Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi tahun 2026 dapat mencapai target 5,4%, bahkan Kementerian Keuangan memproyeksikan bisa menembus 6% dengan pertumbuhan kuartal I 2026 di kisaran 5,5%-6%. Proyeksi ini didukung oleh kinerja ekspor yang kuat, perbaikan belanja pemerintah, dan konsumsi dalam negeri.
Namun, inflasi tahunan pada Januari 2026 tercatat 3,55%, melampaui batas atas target BI (1,5%-3,5%), meskipun inflasi inti masih terjaga di 2,45%. Neraca perdagangan Indonesia tetap surplus, dengan perkiraan surplus Januari 2026 mencapai USD 2,76 miliar. Selain itu, perbankan nasional memiliki likuiditas yang memadai, dengan undisbursed loan mencapai Rp 2.506,47 triliun pada Januari 2026, menunjukkan ruang besar untuk penyaluran kredit guna mendorong pertumbuhan ekonomi.
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan rupiah pada Senin (2/3/2026) akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.790 – Rp 16.820 per dolar AS. Sementara itu, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 16.700 – Rp 16.850 per dolar AS, dan Josua Pardede memproyeksikan di rentang Rp 16.700 – Rp 16.800 per dolar AS.