Rupiah Tertekan Konflik Timur Tengah, BI Perketat Stabilisasi di Tengah Penantian Data Ekonomi

rupiah, konflik timur tengah, bank indonesia, harga minyak, data ekonomi

Nilai tukar kembali menunjukkan pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026, seiring dengan memanasnya konflik terbuka di Timur Tengah. Mayoritas mata uang Asia lainnya juga turut tertekan oleh penguatan dolar AS sebagai aset safe haven.

Pada perdagangan hari ini, rupiah menyusut 0,34% ke level Rp16.828 per dolar AS di pasar spot, menempatkannya di posisi ketiga mata uang Asia dengan pelemahan terdalam. Tak lama setelah pembukaan, pelemahan rupiah bahkan sedikit bertambah menjadi 0,36% ke posisi Rp16.831 per dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) sendiri menguat 0,19% ke level 97,82, mendekati level 98, mencerminkan tingginya permintaan terhadap aset yang dianggap aman di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Eskalasi Konflik di Timur Tengah Picu Gejolak Pasar

Pemicu utama gejolak ini adalah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Serangan baru Israel ke Teheran pada Minggu, 1 Maret 2026, dibalas dengan rentetan serangan rudal oleh Iran, sehari setelah kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Peristiwa ini memperdalam ketidakpastian di Timur Tengah dan mengguncang ekonomi global. Situasi ini juga memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global, terutama setelah Iran dilaporkan menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur vital yang mengangkut sekitar 20-25% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap harinya.

Dampak langsung dari ketegangan ini terlihat pada lonjakan mentah global. Pada Senin, 2 Maret 2026, harga minyak dunia melonjak lebih dari 8%, mencapai level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Harga minyak mentah Brent melejit US$5,88 (8,04%) menjadi US$78,34 per barel, bahkan sempat menyentuh US$82,37 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$4,98 (7,43%) ke level US$72 per barel, setelah sempat mencapai US$75,33. Beberapa laporan bahkan mencatat kenaikan hingga 10-13%.

Bank Indonesia Perkuat Stabilisasi Rupiah

Menyikapi tekanan eksternal ini, (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Februari 2026, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate pada level 4,75%. Keputusan ini konsisten dengan fokus kebijakan BI untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, sekaligus mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menyatakan bahwa bank sentral akan terus aktif di pasar valuta asing. “Bank Indonesia akan terus berada di pasar dan memastikan rupiah bergerak sejalan dengan fundamentalnya,” ujar Erwin, seperti dikutip dari Reuters pada Senin, 2 Maret 2026. Intervensi dilakukan melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. BI memandang nilai tukar rupiah saat ini dinilai lebih rendah (undervalued) dibandingkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Data Ekonomi Domestik dan Global yang Dinanti Pasar

Dari sisi domestik, pasar juga menantikan rilis penting. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2026 sebesar 3,55% (year-on-year/yoy), lebih tinggi dari 2,92% (yoy) pada bulan sebelumnya. Angka ini melampaui batas atas target Bank Indonesia yang berada di kisaran 1,5%-3,5% atau 2,5%±1%. Meskipun demikian, Kementerian Keuangan memproyeksikan tekanan inflasi ini bersifat sementara dan akan kembali normal pada Maret 2026.

Di sisi lain, ekonomi Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang solid, tercatat tumbuh 5,11% sepanjang tahun 2025, menjadi yang tertinggi sejak 2022. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2025 mencapai 5,39% (yoy). Namun, pasar tetap mencermati rilis data inflasi Februari 2026, neraca perdagangan, dan cadangan devisa Indonesia untuk akhir Februari 2026.

Selain data domestik, pelaku pasar juga menyoroti rilis laporan ketenagakerjaan resmi AS untuk Februari, serta data Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur dari AS, Tiongkok, Kanada, Korea Selatan, dan negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia. Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, pada 28 Februari 2026, memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi terdepresiasi menuju Rp17.000 per dolar AS jika eskalasi konflik di Timur Tengah berlanjut. Ketidakpastian geopolitik ini mendorong investor global untuk menghindari aset berisiko dan memburu instrumen aman, termasuk dolar AS dan emas.