Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat, 27 Februari 2026, melanjutkan tren yang dipicu oleh sentimen ‘risk-off’ di pasar global. Mata uang Garuda terpantau bergerak di kisaran Rp16.800-an per dolar AS, setelah sempat menyentuh level Rp16.848 pada Rabu sebelumnya. Kondisi ini mendorong Bank Indonesia (BI) untuk menegaskan kembali komitmennya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Tekanan Global dan Kebijakan Moneter AS Jadi Pemicu Utama
Sentimen ‘risk-off’ yang membayangi pasar keuangan global menjadi faktor dominan di balik pelemahan rupiah. Analis pasar menyoroti kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia dan ketidakpastian arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) di Amerika Serikat. Pernyataan hawkish dari sejumlah pejabat The Fed, ditambah dengan data inflasi AS pada Januari 2026 yang lebih tinggi dari perkiraan, memicu spekulasi bahwa The Fed mungkin akan menunda pemotongan suku bunga atau bahkan mempertimbangkan kenaikan lebih lanjut. Kebijakan suku bunga tinggi ini membuat aset berbasis dolar AS semakin menarik, mendorong arus modal keluar (capital outflow) dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik global, seperti eskalasi konflik di berbagai kawasan dan dinamika hubungan dagang antarnegara besar, turut memperkuat permintaan terhadap aset-aset ‘safe-haven’ seperti dolar AS. Indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat signifikan, mencerminkan tingginya kehati-hatian investor. Mata uang Asia lainnya, seperti won Korea Selatan, ringgit Malaysia, dan baht Thailand, juga mengalami pelemahan serupa, mengindikasikan sentimen ‘risk-off’ yang melanda seluruh kawasan. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyebut investor mengambil sikap hati-hati menjelang pidato kenegaraan Presiden AS Donald Trump pada 25 Februari 2026, yang diperkirakan akan membahas potensi perkembangan kebijakan perdagangan AS dan tindakan di Timur Tengah.
Faktor Domestik dan Komitmen Bank Indonesia
Dari sisi domestik, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Meskipun neraca pembayaran Indonesia (NPI) secara keseluruhan masih sehat dan neraca perdagangan mencatat surplus pada Desember 2025, defisit transaksi berjalan sedikit melebar pada kuartal IV 2025. Selain itu, tingginya kebutuhan valuta asing dari sejumlah korporasi besar di dalam negeri, seperti Pertamina, PLN, dan Danantara, turut memberikan tekanan pada nilai tukar. Inflasi Indonesia juga tercatat meningkat menjadi 3,55% pada Januari 2026.
Menyikapi tekanan ini, Bank Indonesia menegaskan akan terus memantau pergerakan nilai tukar rupiah dan siap melakukan intervensi jika diperlukan untuk menjaga stabilitas. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan, Kami berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamentalnya
. BI memandang nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya (undervalued) dibandingkan dengan fundamental ekonomi Indonesia yang kuat, termasuk konsistensi dengan target inflasi 2,5% ± 1% pada 2026 dan 2027. Langkah stabilisasi akan ditingkatkan melalui intervensi di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. BI juga berupaya menarik investasi portofolio asing melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) untuk menjaga aliran modal masuk.
Prospek Rupiah di Tengah Ketidakpastian
Meskipun menghadapi tantangan global, fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat. Ekonomi Indonesia tumbuh solid sebesar 5,39% (YoY) pada Triwulan IV 2025 dan 5,11% sepanjang tahun 2025. Cadangan devisa Indonesia juga tercatat cukup besar, mencapai US$156,5 miliar pada akhir Desember 2025, yang memadai sebagai penyangga dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati optimistis, Kami yakin ekonomi Indonesia akan tetap resilient
di tengah dinamika pasar global.
Para ekonom memperkirakan pergerakan rupiah akan fluktuatif sepanjang tahun 2026, dengan proyeksi di rentang Rp16.200 hingga Rp17.200 per dolar AS. Proyeksi nilai tukar rupiah pada akhir tahun 2026 direvisi ke bawah menjadi Rp16.350 per dolar AS oleh beberapa lembaga. Sementara itu, Bank Mandiri memproyeksikan BI Rate akan dipangkas maksimal dua kali dengan total penurunan sekitar 50 basis poin pada tahun 2026, sementara The Fed diperkirakan hanya akan memangkas suku bunga sekali sebesar 25 basis poin. Pemerintah sendiri menargetkan rupiah berada di rentang Rp16.500–16.900 per dolar AS dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026.