Rusia melancarkan gelombang serangan rudal dan pesawat nirawak ke berbagai kota di Ukraina pada Kamis, 26 Februari 2026, hanya beberapa jam sebelum dimulainya pembicaraan bilateral krusial antara pejabat Amerika Serikat dan Ukraina di Jenewa, Swiss. Serangan intensif ini menambah ketegangan di tengah upaya diplomatik untuk mencari jalan keluar dari konflik yang kini telah memasuki tahun kelima.
Ibu kota Kyiv menjadi salah satu target utama, di mana ledakan keras dilaporkan terjadi dan sistem pertahanan udara Ukraina beroperasi aktif. Kepala Administrasi Militer Kota Kyiv, Tymur Tkachenko, mengonfirmasi serangan tersebut, mendesak warga untuk tetap berada di tempat perlindungan. Serangan di Kyiv menyebabkan kerusakan pada bangunan tempat tinggal dan infrastruktur energi, mengakibatkan setidaknya satu orang tewas dan 12 lainnya terluka, termasuk empat anak-anak.
Selain Kyiv, beberapa wilayah lain juga menjadi sasaran. Di Kharkiv, dua ledakan terdengar di bagian timur laut kota, dengan drone Shahed Rusia dilaporkan menargetkan area pemukiman. Wali Kota Kharkiv, Igor Terekhov, melaporkan adanya serangan udara gabungan yang menghantam distrik Shevchenkivsky dan Kyivsky, melukai 14 orang, termasuk seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun. Sementara itu, di Zaporizhzhia, Kepala Wilayah Ivan Fedorov mengonfirmasi kotanya juga diserang hebat, menyebabkan beberapa ledakan dan melukai setidaknya tujuh orang. Serangan di Zaporizhzhia merusak 19 bangunan apartemen dan menyebabkan sekitar 500 rumah kehilangan akses pemanas.
Serangan Rusia juga dilaporkan terjadi di Kryvyi Rig, melukai seorang pria berusia 89 tahun. Di bagian barat Ukraina, kota Lviv diguncang dua ledakan di area pertokoan, menewaskan seorang polisi wanita dan melukai 25 orang. Lebih jauh ke selatan, di Mykolaiv, sebuah ledakan melukai tujuh petugas polisi, dua di antaranya dalam kondisi kritis. Secara keseluruhan, setidaknya 26 orang terluka dalam serangan semalam tersebut. Serangan ini secara sistematis menargetkan sektor energi Ukraina, menyebabkan pemadaman listrik di enam wilayah timur dan tenggara.
Pembicaraan Diplomatik di Jenewa
Di tengah eskalasi militer, pejabat Amerika Serikat dan Ukraina memulai perundingan bilateral di Jenewa pada Kamis, 26 Februari 2026. Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari upaya diplomatik untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama empat tahun. Delegasi Ukraina dipimpin oleh kepala negosiator Rustem Umerov, didampingi Menteri Ekonomi Oleksii Sobolev dan Wakil Menteri Ekonomi Daryna Marchak. Dari pihak AS, utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner memimpin delegasi.
Agenda utama pembicaraan mencakup isu-isu keamanan, paket kemakmuran ekonomi untuk pemulihan Ukraina, mekanisme dukungan ekonomi, instrumen untuk menarik investasi, serta kerangka kerja sama jangka panjang. Umerov menyatakan, “Kami melanjutkan pekerjaan dalam kerangka proses negosiasi. Fokus kami adalah pada solusi praktis.” Ia juga menambahkan bahwa prioritas dalam jalur kemanusiaan adalah pembahasan mengenai pertukaran tahanan, dengan harapan “hasil nyata terkait pemulangan warga negara kami.”
Pertemuan bilateral ini juga bertujuan untuk mempersiapkan putaran negosiasi trilateral berikutnya yang melibatkan Rusia, yang diperkirakan akan digelar pada awal Maret. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, setelah berbicara dengan Presiden AS Donald Trump, mengungkapkan harapannya bahwa pertemuan ini akan “menciptakan peluang untuk membawa pembicaraan ke tingkat pemimpin” dan bahwa Presiden Trump mendukung langkah diplomatik ini sebagai “satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah kompleks dan akhirnya menghentikan perang.”
Perkembangan di Medan Perang dan Isu Nuklir
Di medan perang, pasukan Rusia dilaporkan terus melakukan pergerakan darat. Mereka berhasil menguasai desa Novyi Donbas di utara Pokrovsk dan kini mendekati Dobropillya, yang berjarak sekitar 4 kilometer. Pasukan Rusia juga dilaporkan telah memasuki Kucherov Yar dan mengancam Slavyansk. Sementara itu, klaim Ukraina bahwa mereka berhasil merebut kembali 400 kilometer persegi wilayah di selatan menunjukkan dinamika pertempuran yang terus berlanjut.
Isu senjata nuklir kembali mencuat setelah Rusia menuduh Inggris dan Prancis secara aktif berupaya menyediakan bom nuklir kepada Kyiv. Kementerian Luar Negeri Rusia bahkan memperingatkan risiko konfrontasi militer langsung antara kekuatan nuklir. Menanggapi tuduhan ini, Presiden Zelenskyy membantah telah menerima tawaran senjata nuklir dari kedua negara tersebut, namun secara tegas menyatakan bahwa ia akan “dengan senang hati” menerimanya jika tawaran itu benar-benar diajukan.
Dalam perkembangan terpisah, Indonesia memilih abstain dalam pemungutan suara resolusi Majelis Umum PBB untuk perdamaian abadi di Ukraina pada 24 Februari 2026. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menjelaskan bahwa keputusan ini diambil karena pembahasan resolusi dinilai tidak inklusif dan tidak membuka ruang negosiasi terhadap konsep yang diajukan.