Produsen minyak utama, Rusia dan Iran, secara agresif menawarkan diskon besar untuk minyak mentah mereka kepada pembeli di China. Langkah ini diambil di tengah tekanan sanksi Barat yang kian ketat dan penumpukan stok minyak yang signifikan di lautan, memicu perang harga yang intens di pasar energi global.
Persaingan harga ini semakin memanas setelah India secara substansial mengurangi impor minyak dari Rusia. Pergeseran aliran pasokan ini memaksa Rusia dan Iran untuk bersaing lebih keras memperebutkan pangsa pasar di China, yang kini menjadi pembeli utama bagi kedua negara yang terkena sanksi tersebut.
Diskon Harga Minyak Rusia dan Iran Makin Dalam
Data terbaru menunjukkan bahwa minyak mentah Urals dari Rusia kini diperdagangkan sekitar US$12 per barel di bawah patokan global ICE Brent. Diskon ini melebar dari sekitar US$10 pada bulan Januari 2026. Sementara itu, minyak Iranian Light ditawarkan dengan potongan harga sekitar US$11 di bawah Brent, meningkat dari diskon US$8–9 pada Desember 2025.
Penawaran harga yang sangat kompetitif ini merupakan respons langsung terhadap pengetatan sanksi Amerika Serikat dan sekutunya, yang telah membatasi akses Rusia dan Iran ke pasar tradisional. Akibatnya, pasokan minyak dari kedua negara ini terpaksa mencari pembeli alternatif, dengan China menjadi tujuan utama.
Stok Minyak Mengambang di Lautan
Kondisi ini diperparah dengan penumpukan minyak mentah dalam jumlah besar yang mengambang di lautan. Sebanyak 292 juta barel minyak mentah dari Rusia dan Iran dilaporkan mengapung di perairan internasional pada Februari 2026, menandai lonjakan lebih dari 50% dibandingkan tahun sebelumnya. Kapasitas penyimpanan minyak di laut disebut hampir mencapai batasnya.
Fenomena stok minyak yang mangkrak di laut ini mencerminkan tantangan struktural dalam rantai pasok energi global, di mana sanksi telah menciptakan disrupsi distribusi yang signifikan.
China sebagai Penyelamat Pasar
China telah menjadi pasar krusial bagi Rusia dan Iran. Beijing menyerap lebih dari 80% ekspor minyak Iran dan hampir separuh dari ekspor minyak mentah Rusia. Ketergantungan ini diperkirakan akan terus meningkat, terutama karena Rusia berencana meningkatkan ekspor energi ke China pada tahun 2025 untuk menopang pendapatannya di tengah konflik yang berkepanjangan.
Kilang-kilang independen China, yang dikenal sebagai “teapots”, secara historis berperan sebagai katup tekanan pasar minyak, menyerap barel yang ditolak oleh pihak lain. Namun, kapasitas mereka terbatas dan tunduk pada kuota impor yang ditetapkan pemerintah.
Meskipun ada ancaman tarif hingga 25% dari Amerika Serikat, pemerintah China menegaskan tidak akan berhenti membeli minyak dari Rusia dan Iran, dengan alasan kepentingan nasional dalam pasokan energi.
Pergeseran Arus Dagang dan Tekanan Geopolitik
Perubahan signifikan dalam arus dagang dipicu oleh penurunan impor India terhadap minyak Rusia. Data menunjukkan, impor India turun drastis dari lebih dari 2 juta barel per hari (bph) pada pertengahan 2025 menjadi sekitar 1,1 juta bph pada Januari 2026, dan diproyeksikan turun lagi menjadi sekitar 800.000 bph pada Maret 2026.
Penurunan permintaan dari India ini mengalihkan pasokan minyak Rusia ke pasar China yang sudah kompetitif, memicu “perang diskon” dengan Iran. Dalam persaingan ini, Rusia tampaknya berhasil merebut pangsa pasar lebih besar di China dibandingkan Iran pada awal Februari 2026, dengan volume minyak Rusia yang masuk ke pelabuhan China mencatat rekor harian yang lebih tinggi.
Di sisi geopolitik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah sepakat untuk meningkatkan tekanan maksimum terhadap Iran, khususnya dengan membatasi penjualan minyak Iran ke China. Strategi ini bertujuan untuk menekan ekonomi Iran secara signifikan.
Meskipun demikian, pasar minyak global menunjukkan dinamika yang kompleks. Harga minyak mentah Brent tercatat naik sekitar 14% sepanjang tahun 2026, sebagian karena disrupsi distribusi akibat sanksi dan meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama antara AS dan Iran, yang juga memicu kenaikan biaya pengiriman minyak.