Rusia melancarkan serangan udara besar-besaran ke berbagai wilayah Ukraina pada Kamis dini hari, 26 Februari 2026, menggunakan ratusan drone dan puluhan rudal. Serangan ini menargetkan infrastruktur energi, fasilitas kereta api, dan permukiman sipil, menyebabkan sedikitnya 26 orang terluka di sejumlah kota, termasuk Kharkiv dan Zaporizhzhia.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengonfirmasi bahwa Rusia melepaskan total 420 drone dan 39 rudal, termasuk 11 rudal balistik, dalam upaya menghancurkan infrastruktur vital negara tersebut. Meskipun unit pertahanan udara Ukraina berhasil menembak jatuh 374 drone dan 32 rudal, Angkatan Udara Ukraina melaporkan bahwa 5 rudal balistik dan 46 drone musuh berhasil menghantam 32 lokasi sasaran.
Dampak Serangan di Kharkiv dan Zaporizhzhia
Kota Kharkiv, di wilayah timur Ukraina, menjadi salah satu target utama. Gubernur Kharkiv, Oleh Syniehubov, melaporkan bahwa setidaknya 14 orang terluka akibat serangan ini, termasuk seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun. Kota tersebut dihantam oleh dua rudal dan 17 drone, yang menyebabkan dua ledakan keras di kawasan permukiman. Wali Kota Kharkiv, Igor Terekhov, sempat memperingatkan penduduk untuk tetap berada di tempat perlindungan karena ancaman drone dan rudal yang terbang menuju pusat kota.
Di wilayah selatan, Zaporizhzhia juga diguncang oleh gelombang serangan drone. Gubernur Zaporizhzhia, Ivan Fedorov, menyatakan bahwa tujuh orang mengalami luka-luka akibat insiden tersebut. Serangan drone di Zaporizhzhia merusak 19 gedung apartemen dan menyebabkan sekitar 500 rumah kehilangan sistem pemanas akibat kerusakan infrastruktur. Fedorov juga merilis foto-foto yang menunjukkan rumah-rumah berlubang di bagian dinding, bangunan hunian pribadi yang hancur, serta toko-toko yang rusak parah.
Target Infrastruktur Kritis dan Pernyataan Zelensky
Selain Kharkiv dan Zaporizhzhia, serangan Rusia juga menyasar ibu kota Kyiv, di mana rudal balistik dan jelajah diarahkan ke kota tersebut. Otoritas di Kyiv melaporkan sejumlah bangunan di tiga distrik mengalami kerusakan akibat puing-puing rudal dan drone yang berhasil ditembak jatuh. Fasilitas gas di wilayah Poltava serta gardu induk listrik di Kyiv dan Dnipro menjadi target utama dalam serangan sektor energi kali ini. Infrastruktur kereta api di wilayah garis depan, termasuk Donetsk, Kharkiv, dan Zaporizhzhia, juga turut diserang.
Presiden Zelensky mengecam keras serangan tersebut, menyatakan, “Tadi malam, Rusia sekali lagi mengobarkan perang terhadap infrastruktur kritis dan gedung-gedung pemukiman biasa.” Ia juga menegaskan pentingnya bantuan pertahanan udara mengingat kondisi cuaca membeku di musim dingin. “Hawa dingin belum sepenuhnya mereda, dan rudal pertahanan udara dibutuhkan setiap hari, sementara Rusia terus berupaya menghancurkan sistem energi kami,” lanjutnya.
Konflik Berkelanjutan dan Respons Internasional
Serangan ini menambah daftar panjang pemboman semalam yang dihadapi Ukraina dalam beberapa bulan terakhir, di mana Rusia terus mengintensifkan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina di tengah kondisi musim dingin yang ekstrem. Konflik Rusia-Ukraina sendiri telah memasuki tahun keempat, dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan resolusi pada 25 Februari 2026, yang mendesak perdamaian adil dan menyoroti keprihatinan atas serangan Rusia terhadap sipil dan infrastruktur energi kritis Ukraina.
Eskalasi ini terjadi hanya sepekan setelah pembicaraan damai antara Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat berlangsung di Jenewa, Swiss. Negara-negara anggota NATO, seperti Polandia dan Rumania, juga telah meningkatkan kewaspadaan dengan menerbangkan jet tempur sebagai respons terhadap serangan Rusia ke Ukraina, terutama ketika rudal dan drone Moskow menyasar wilayah yang berbatasan langsung dengan mereka.