Rusia Tunjukkan Batas Dukungan ke Iran di Tengah Eskalasi Timur Tengah

Hubungan strategis antara dan , yang diperkuat melalui perjanjian komprehensif pada awal tahun 2025, menghadapi ujian berat di tengah serangkaian eskalasi di . Meskipun kedua negara berupaya memperdalam kerja sama militer dan ekonomi, Moskow menunjukkan batas-batas dukungannya terhadap Teheran, terutama ketika kepentingan geopolitiknya yang lebih luas dipertaruhkan.

Pada 17 Januari 2025, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Rusia menandatangani perjanjian kemitraan strategis komprehensif berjangka 20 tahun di Moskow, yang secara resmi berlaku pada 2 Oktober 2025. Perjanjian ini dirancang untuk memperdalam kerja sama di berbagai bidang, termasuk dinas keamanan, latihan militer, kunjungan kapal perang, dan pelatihan gabungan perwira militer. Putin sendiri menyebut pakta ini sebagai “titik balik” dalam hubungan bilateral, menyoroti pertumbuhan perdagangan dan kerja sama di sektor pembangkit listrik, koridor transportasi, serta transmisi energi.

Namun, batas-batas persahabatan ini mulai terlihat jelas pada Juni 2025, ketika Iran mengalami perang 12 hari dengan Israel. Seorang penasihat politik senior Iran, Seyed Mohammad Sadr, menuding Rusia membocorkan informasi strategis mengenai lokasi sistem pertahanan udara Iran kepada Israel. Selama konflik tersebut, Israel dilaporkan menghancurkan semua sistem rudal S-300 buatan Rusia yang ditempatkan di Iran, sementara janji pengiriman sistem S-400 dari Moskow tidak pernah terwujud. Kekecewaan ini mendorong Iran untuk mencari bantuan dari Belarus sebagai mitra utama dalam pemulihan militer pasca-perang, alih-alih sepenuhnya bergantung pada Rusia.

Meskipun demikian, kerja sama militer tetap berlanjut dengan nuansa yang kompleks. Pada Desember 2025, sebuah kesepakatan senjata rahasia senilai €500 juta (sekitar Rp 9,9 triliun) ditandatangani di Moskow, yang baru terungkap pada Februari 2026. Berdasarkan perjanjian ini, Rusia akan memasok 500 unit peluncur portabel sistem pertahanan udara Verba dan 2.500 rudal tipe 9M336 kepada Iran, dengan pengiriman dijadwalkan secara bertahap antara tahun 2027 hingga 2029. Permintaan ini diajukan Iran pada Juli 2025, menyusul serangan signifikan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran pada bulan Juni tahun yang sama. Selain itu, kedua negara juga menggelar latihan angkatan laut gabungan di Teluk Oman dan Samudra Hindia bagian utara pada Februari 2026.

Dalam isu program nuklir, Rusia terus mendukung hak Iran untuk mengembangkan energi nuklir secara damai dan telah membantu proyek-proyek nuklir sipil seperti Bushehr. Bahkan, pada September 2025, Iran dan Rusia menyepakati pembangunan empat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) baru dengan total kapasitas 5.020 megawatt di Kouhestan, Iran selatan. Namun, Moskow tetap berhati-hati untuk tidak secara terbuka mendukung ambisi pengayaan uranium Iran yang lebih agresif, sejalan dengan posisi P5+1. Pada Februari 2026, Rusia bahkan menawarkan untuk menampung uranium Iran sebagai upaya meredakan ketegangan antara Teheran dan Amerika Serikat.

Di Suriah, kepentingan Rusia dan Iran juga seringkali tidak sepenuhnya selaras. Rusia terus mempertahankan koordinasi militer dengan Israel terkait operasi di Suriah, meskipun seringkali bertentangan dengan keberatan Iran yang ingin membatasi operasi Israel terhadap target pro-Iran. Moskow berupaya menjaga stabilitas di Timur Tengah dan menghindari konfrontasi langsung, menyeimbangkan kepentingannya dengan berbagai kekuatan regional. Hal ini menunjukkan bahwa bagi Rusia, mempertahankan pemerintahan Suriah yang stabil lebih penting daripada sepenuhnya mendukung agenda Iran di sana.

Secara ekonomi, meskipun volume perdagangan antara Rusia dan Iran telah meningkat, pertumbuhannya masih terhambat oleh masalah logistik, sanksi internasional, dan kurangnya infrastruktur perbankan yang kuat. Kedua negara memang sama-sama menghadapi sanksi Barat yang ketat.

Secara diplomatik, Kremlin, melalui juru bicara Dmitry Peskov, pada Februari 2026 menyerukan semua pihak untuk menahan diri dan mengutamakan jalur diplomatik di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, memperingatkan konsekuensi berbahaya dari kekerasan. Namun, Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, mengkritik keras serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari 2026, menyebut diplomasi nuklir AS sebagai “operasi kedok” untuk melancarkan tindakan militer. Menariknya, Presiden Putin sendiri memilih untuk tidak berkomentar langsung mengenai protes internal di Iran pada Januari 2026, sebuah sikap yang menunjukkan kehati-hatian Kremlin dalam isu-isu domestik sekutunya.

Dengan demikian, meskipun Rusia dan Iran telah membentuk kemitraan strategis yang kuat, hubungan ini tetap diwarnai oleh batas-batas yang jelas. Moskow tampaknya memprioritaskan kepentingan geopolitiknya yang lebih luas, termasuk menjaga keseimbangan regional dan menghindari eskalasi yang tidak terkendali, bahkan jika itu berarti mengecewakan sekutunya, Iran, dalam momen-momen krusial.