Dua raksasa pertambangan global, Vale SA dari Brasil dan Anglo American Plc yang berbasis di London, terpaksa mengalihkan sejumlah kargo bijih besi mereka dari rute Laut Merah dan Timur Tengah. Pengalihan ini terjadi di tengah memburuknya konflik di kawasan tersebut, yang secara signifikan mengganggu salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia dan memicu kekhawatiran akan stabilitas rantai pasok komoditas global.
Menurut data pelacakan kapal dari perusahaan analitik Kpler, setidaknya tiga kargo bijih besi milik Anglo American Plc dan dua dari Vale SA telah mengalami perubahan tujuan di tengah perjalanan menuju Asia Timur. Kapal Cape Shangrila milik Anglo, yang semula berlayar ke Bahrain, kini dialihkan menuju Singapura. Sementara itu, kapal Cape Jasmine mengubah haluan dari Bahrain ke Vietnam, dan Mineral Zimbabwe beralih dari Oman menuju Qingdao, China. Dua kapal Vale yang awalnya menuju Oman juga telah dialihkan, masing-masing ke China dan Malaysia.
Situasi ini menggarisbawahi dampak serius konflik terhadap perdagangan komoditas. Produsen baja di Timur Tengah sangat bergantung pada impor bijih besi premium untuk produksi pelet, yang esensial dalam metode besi reduksi langsung (DRI) yang menghasilkan prekursor baja dengan emisi lebih rendah. Oman dan Bahrain merupakan produsen pelet utama di kawasan tersebut, dan perang yang berkepanjangan diperkirakan akan memperketat pasar untuk konsentrat dan pelet bermutu tinggi.
David Cachot, direktur riset di Wood Mackenzie Ltd., menyoroti kerentanan rantai pasokan yang sudah terkonsentrasi akibat ketidakstabilan geopolitik saat ini. Ia menambahkan bahwa gangguan terhadap pasokan pakan pelet atau ekspor pelet dari fasilitas-fasilitas di kawasan tersebut akan berdampak luas pada sektor DRI. Hingga berita ini diturunkan, Anglo American dan Vale belum memberikan tanggapan resmi terkait pengalihan kargo tersebut.
Eskalasi konflik di Timur Tengah telah mencapai puncaknya dengan deklarasi penutupan total Laut Merah oleh kelompok Houthi Yaman pada 28 Februari 2026, sebagai bentuk solidaritas terhadap Iran menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran. Selain itu, Selat Hormuz, jalur vital yang menyalurkan sekitar 20-30 persen pasokan minyak global, juga dilaporkan “secara efektif” ditutup, menyebabkan ratusan kapal tertahan. Laut Merah sendiri merupakan rute tercepat antara Asia dan Eropa, dengan sekitar 15 persen perdagangan laut global melintasi Terusan Suez.
Dampak langsung dari gangguan pelayaran ini terlihat pada lonjakan harga komoditas. Harga bijih besi telah naik selama enam sesi berturut-turut pada 9 Maret 2026, mencapai 784,5 CNY per ton atau sekitar $113,44 per ton di Bursa Komoditas Dalian, dan $103,15 per ton di Bursa Singapura. Kenaikan ini didorong oleh melonjaknya harga minyak mentah lebih dari 25 persen akibat konflik dan risiko pengiriman yang meningkat. Atilla Widnell, CEO Navigate Commodities, menjelaskan bahwa kenaikan biaya energi akan secara langsung meningkatkan biaya bahan bakar pengiriman, premi asuransi, dan biaya tambahan risiko transportasi.
Pengalihan rute kapal melalui Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika, sebagai alternatif Laut Merah, menambah waktu transit sekitar 10 hingga 20 hari. Hal ini secara otomatis meningkatkan biaya operasional kapal dan premi asuransi. Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) memperkirakan bahwa jika konflik berkepanjangan, biaya logistik global dapat mengalami kenaikan signifikan hingga 30 persen secara kumulatif. Senior Vice President FIATA, Yukki Nugrahawan Hanafi, juga memperingatkan risiko sistemik yang dapat memicu inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi global akibat gangguan rantai pasok ini.