Saham AS Menguat, Dolar dan Obligasi Loyo Pasca Putusan Mahkamah Agung Batalkan Tarif Trump

Author Image

Hodak

21 Februari 2026

tarif trump, mahkamah agung as, pasar saham as, dolar as, obligasi as

Pasar keuangan Amerika Serikat (AS) bereaksi beragam pada Jumat, 20 Februari 2026, setelah mengeluarkan putusan yang membatalkan tarif luas yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump. Saham-saham AS menguat, sementara nilai tukar melemah dan imbal hasil obligasi Treasury AS mengalami kenaikan.

Mahkamah Agung Batalkan Tarif IEEPA

Dalam putusan 6-3, Mahkamah Agung AS menyatakan bahwa Presiden Trump telah melampaui wewenangnya dalam memberlakukan tarif di bawah Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA) tahun 1977. Putusan ini secara efektif membatalkan tarif yang dikenal sebagai ‘Liberation Day’ yang pertama kali diumumkan Trump pada April 2025, yang mengenakan bea mulai dari 10% hingga 50% pada impor dari hampir semua mitra dagang AS.

Kepala Hakim John Roberts, dalam opini mayoritas, menegaskan bahwa IEEPA tidak memberikan wewenang kepada Presiden untuk mengenakan tarif, menggarisbawahi bahwa Konstitusi secara jelas memberikan kekuasaan untuk memungut pajak, termasuk tarif, kepada Kongres.

Reaksi Pasar: Saham Menguat, Dolar dan Obligasi Loyo

Setelah pengumuman putusan tersebut, indeks saham utama AS menunjukkan penguatan. Indeks S&P 500 naik sekitar 0,6% hingga 0,7%, Dow Jones Industrial Average bertambah 0,2% hingga 0,5%, dan Nasdaq Composite melonjak 0,9% hingga 1%. Saham-saham di Eropa juga mencapai rekor tertinggi baru.

Kenaikan saham ini didorong oleh sentimen investor yang lega terhadap berkurangnya ketidakpastian kebijakan perdagangan. Sektor-sektor yang sangat bergantung pada impor, seperti ritel, perangkat keras IT, dan industri, diperkirakan akan mendapatkan keuntungan dari putusan ini. Tim Ghriskey, ahli strategi portofolio senior di Ingalls & Snyder di New York, menyatakan, “Pembatalan tarif ini akan menguntungkan laba bersih perusahaan, pendapatan perusahaan.”

Di sisi lain, pasar obligasi Treasury AS menunjukkan kenaikan imbal hasil. Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun naik 0,8 hingga 2 basis poin menjadi sekitar 4,08% hingga 4,097%. Sementara itu, imbal hasil obligasi 30 tahun naik 2 basis poin menjadi 4,7244%. Kenaikan imbal hasil ini dapat diartikan sebagai pelemahan harga obligasi, yang sejalan dengan istilah ‘loyo’.

Adapun dolar AS melemah. Indeks Dolar AS (DXY) turun sekitar 0,2% hingga 0,3% menjadi 97,67. Pelemahan dolar ini sebagian besar disebabkan oleh penghapusan tekanan inflasi struktural, yang secara teoritis memberikan ruang lebih bagi Federal Reserve untuk memangkas suku bunga, serta kekhawatiran fiskal terkait potensi pengembalian pendapatan tarif yang telah terkumpul.

Reaksi Trump dan Implikasi Ekonomi

Presiden Trump merespons putusan Mahkamah Agung dengan kemarahan, bersumpah akan memberlakukan bea baru sebesar 10% secara global di bawah Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan 1974, yang memungkinkan tarif sementara selama 150 hari tanpa persetujuan Kongres. Ia juga menyatakan akan menjajaki jalur lain, termasuk Pasal 232, 201, 301, dan 330.

Putusan ini muncul di tengah data ekonomi AS yang beragam. Laporan menunjukkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal keempat 2025 melambat signifikan menjadi 1,4%, jauh di bawah perkiraan 2,5%. Sementara itu, data inflasi Desember 2025, yang diukur oleh indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), menunjukkan kenaikan 0,4% secara bulanan, dengan tingkat tahunan inti mencapai 3,0%, masih di atas target 2% Federal Reserve.

Analisis oleh Federal Reserve Bank of New York menemukan bahwa hampir 90% dari tarif yang diberlakukan Trump pada tahun 2025 ditanggung oleh konsumen dan bisnis AS dalam bentuk biaya yang lebih tinggi. Dengan pembatalan tarif IEEPA, diperkirakan lebih dari $129 miliar hingga $175 miliar pendapatan tarif yang telah terkumpul berisiko harus dikembalikan kepada importir. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi defisit fiskal yang lebih besar.

Meskipun ada penguatan pasar saham, beberapa analis memperingatkan bahwa ketidakpastian kebijakan perdagangan mungkin belum sepenuhnya hilang. Matthew Ryan, seorang analis di Ebury, mengatakan, “Putusan Mahkamah Agung tentang kemungkinan tidak akan menjadi pengubah permainan besar bagi pasar. Keputusan itu tidak hanya sudah diperkirakan secara luas, tetapi presiden juga telah mengisyaratkan bahwa ia akan segera beralih ke alat hukum lain untuk mencapai pembatasan perdagangan serupa.”