Prospek saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di tahun 2026 masih menarik perhatian investor dan analis, dengan sejumlah sekuritas memproyeksikan potensi kenaikan harga yang signifikan. Konsensus dari 22 analis bahkan memberikan rekomendasi “Sangat Beli” untuk saham bank swasta terbesar di Indonesia ini.
Target harga rata-rata 12 bulan untuk BBCA dipatok di kisaran Rp 10.095, dengan estimasi tertinggi mencapai Rp 11.700 dan terendah Rp 7.500. Secara lebih spesifik, Fintel memproyeksikan harga saham BBCA dapat mencapai Rp 10.539,47 pada 25 Februari 2027. Sementara itu, KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga Rp 11.080, didukung oleh valuasi 4,1 kali price to book value (P/B) estimasi tahun buku 2026.
Kinerja Solid di Tengah Tekanan Margin
BBCA menutup tahun buku 2025 dengan kinerja yang solid, mencatatkan laba bersih sebesar Rp 57,5 triliun, tumbuh 4,9% secara tahunan dibandingkan Rp 54,8 triliun pada 2024. Pendapatan operasional BCA juga meningkat 5,4% secara tahunan menjadi Rp 111,1 triliun. Pertumbuhan ini didorong oleh pendapatan bunga bersih (NII) sebesar Rp 65,4 triliun (naik 4,1% yoy) dan pendapatan non-bunga yang melonjak 16% yoy menjadi Rp 25,6 triliun.
Memasuki awal tahun 2026, BBCA kembali membukukan laba bersih individual sebesar Rp 4,99 triliun pada Januari, tumbuh 5,76% secara tahunan. Namun, terdapat indikasi tekanan pada margin bunga bersih (NIM) yang turun menjadi 5,35% pada Januari 2026, lebih rendah dari 5,91% di Januari 2025 dan 5,65% di Desember 2025. Angka ini juga berada di bawah rentang sasaran manajemen sebesar 5,4% hingga 5,6%. Penurunan NII sebesar 1,04% secara tahunan menjadi Rp 6,62 triliun pada Januari 2026 menandai pertama kalinya NII bank bergerak ke level negatif dalam setahun terakhir.
Manajemen BBCA telah mengungkapkan bahwa tekanan pada NIM diproyeksikan akan berlanjut sepanjang tahun ini seiring dengan penyesuaian suku bunga Bank Indonesia.
Kualitas Aset dan Pertumbuhan Kredit Terjaga
Meskipun ada tekanan pada NIM, fundamental BBCA tetap kokoh. Rasio Loan at Risk (LAR) membaik menjadi 4,8% pada 2025 dari 5,3% sebelumnya, sementara rasio Non-Performing Loan (NPL) tetap terkendali di level 1,7%. Ini menunjukkan ketahanan BCA dalam menghadapi tantangan kualitas aset di sektor perbankan.
Pertumbuhan kredit BBCA pada akhir 2025 mencapai 8% secara tahunan, berada di batas atas panduan manajemen. Namun, pada Januari 2026, pertumbuhan kredit bank-only melambat menjadi 6,26% secara tahunan, di bawah target manajemen untuk 2026 yang dipatok di kisaran 8-10%. Di sisi lain, Cost of Credit (CoC) tetap rendah di 0,3% pada Januari 2026, bahkan di bawah panduan manajemen 0,4-0,6% untuk tahun ini.
Keunggulan struktural BBCA juga terletak pada dominasi dana pihak ketiga (DPK) berbiaya rendah atau CASA (Current Account Savings Account) yang mencapai 84-85% pada 2025. Hal ini memberikan fleksibilitas besar dalam pengelolaan biaya dana.
Sentimen Analis dan Potensi Dividen
Mayoritas analis mempertahankan rekomendasi ‘beli’ atau ‘akumulasi’ untuk saham BBCA. Analis BRI Danareksa dan CGS International menempatkan BBCA sebagai ‘top pick‘ di sektor perbankan. Mereka menilai BBCA memiliki profil pendapatan yang lebih aman dan kualitas aset yang lebih solid dibandingkan bank lain.
KB Valbury Sekuritas menilai saham BBCA masih memiliki peluang untuk mengalami re-rating atau peningkatan valuasi, meskipun sentimen pasar jangka pendek cenderung lemah. Faktor pendorong kinerja BBCA pada 2026 antara lain penurunan biaya dana, imbal hasil kredit yang relatif stabil, serta rasio efisiensi yang solid.
Bagi investor jangka panjang, BBCA juga dikenal sebagai emiten yang rutin membagikan dividen. Dividen final dari tahun buku 2025 diperkirakan sekitar Rp 270 per saham, mengindikasikan dividend yield 3,7% berdasarkan harga saham Rp 7.275 per 18 Februari 2026. Manajemen bahkan melihat ruang untuk kenaikan payout ratio dividen. Bibit memproyeksikan potensi dividen Rp 350 per saham untuk tahun buku 2026, dengan asumsi payout ratio 70%.
Meskipun sempat mengalami tekanan jual asing di awal tahun, investor asing mulai kembali melakukan pembelian bersih (net buy) pada saham BBCA di akhir Februari 2026, menandakan sinyal awal pemulihan minat. Hal ini juga terjadi di tengah ketangguhan BBCA menghadapi sentimen pasar negatif, termasuk isu kebijakan indeks MSCI.