Saham ENRG Melonjak Dekati ARA, Didorong Kenaikan Harga Komoditas dan Kinerja Positif

Saham () mencatatkan lonjakan signifikan pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026, bergerak mendekati batas atas auto rejection (ARA). Pergerakan ini terjadi di tengah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang justru terkoreksi dalam, menyoroti kekuatan fundamental dan sentimen positif yang melingkupi emiten migas tersebut.

Pada sesi perdagangan hari ini, saham ENRG berada di level Rp 2.110, melonjak 350 poin atau setara 19,89% dari harga penutupan sebelumnya di Rp 1.760. Dengan batas ARA di Rp 2.200, ruang kenaikan yang tersisa semakin menipis. Nilai transaksi saham ENRG tercatat mencapai sekitar Rp 106,87 miliar dengan volume 5,36 juta lot, menunjukkan aktivitas perdagangan yang meningkat tajam.

Struktur orderbook juga memperlihatkan ketidakseimbangan yang mencolok pada sisi permintaan, dengan total antrean beli (bid) mencapai 649.351 lot, jauh melampaui antrean jual (offer) sebanyak 363.136 lot. Kondisi ini mengindikasikan tingginya minat investor terhadap saham ENRG.

Lonjakan harga saham ENRG ini tidak terlepas dari memanasnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang memicu kenaikan harga minyak mentah global. Pada 2 Maret 2026, harga minyak mentah Brent melonjak lebih dari 8% ke posisi sekitar US$78,34 per barel setelah serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026.

Eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk kekhawatiran gangguan pasokan melalui Selat Hormuz, meningkatkan sentimen bullish terhadap komoditas energi. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan bahwa kenaikan harga saham emiten migas berkaitan erat dengan pergerakan harga minyak global.

Selain sentimen geopolitik, kinerja fundamental PT Energi Mega Persada Tbk yang solid pada tahun buku 2025 turut menjadi pendorong. Perseroan membukukan laba bersih sebesar US$91,53 juta (setara Rp1,6 triliun), melonjak 21% dibandingkan tahun 2024. Penjualan bersih juga tumbuh 7% menjadi US$498,13 juta, sementara EBITDA naik 11% menjadi US$309,71 juta.

Peningkatan kinerja ini didukung oleh investasi lebih dari US$250 juta untuk program eksplorasi dan pengembangan di seluruh aset produksi pada 2025. Syailendra S. Bakrie, Chief Executive Officer & Direktur Utama ENRG, menyatakan, “Hasilnya, kami mampu meningkatkan keandalan lapangan-lapangan kami serta memperluas kapasitas produksi aset di masa mendatang.”

Edoardus Ardianto, Chief Financial Officer & Wakil Direktur Utama ENRG, menambahkan bahwa perseroan berfokus pada efisiensi operasional, alokasi modal yang disiplin, dan pengelolaan keuangan yang prudent. Ia juga menyebutkan keberhasilan penerbitan obligasi pada kuartal pertama 2026 akan menurunkan biaya pendanaan perusahaan ke depan.

Prospek ENRG semakin cerah dengan rencana ekspansi agresif, termasuk target akuisisi hingga tiga blok migas baru pada 2026 dengan alokasi belanja modal US$200 juta. Perseroan juga telah menuntaskan akuisisi 25% hak partisipasi di Kontrak Kerja Sama (KKS) Kangean pada November 2025, menjadikannya operator tunggal.

Penemuan gas baru di struktur East Walanga di KKS Sengkang, Sulawesi Selatan, dengan potensi produksi yang signifikan, juga menambah optimisme terhadap peningkatan cadangan dan produksi ENRG di masa mendatang. Analis Verdhana Sekuritas merevisi naik target harga saham ENRG menjadi Rp2.140 dengan rekomendasi beli, didukung oleh prospek produksi yang meningkat dan asumsi harga minyak yang lebih tinggi.