Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan signifikan pada pembukaan perdagangan Senin, 2 Maret 2026, merosot 1,7% ke level 8.092 poin akibat sentimen ‘risk-off’ global menyusul eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran. Namun, di tengah pelemahan pasar secara keseluruhan, saham-saham di sektor energi justru menunjukkan kinerja yang kontras, dengan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menjadi salah satu yang melonjak tajam.
Konflik di Timur Tengah telah memicu kekhawatiran serius terhadap pasokan minyak global. Serangan udara gabungan AS-Israel terhadap Iran telah memicu serangan balasan dari Teheran, memperluas cakupan konflik di kawasan tersebut. Ancaman terbesar terletak pada Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang menjadi koridor bagi sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia setiap harinya.
Meskipun Iran belum secara resmi menutup Selat Hormuz, operator komersial, perusahaan minyak besar, dan perusahaan asuransi telah menghentikan sebagian besar lalu lintas kapal karena premi asuransi yang melonjak tinggi, menciptakan penutupan ‘de facto’. Akibatnya, harga minyak mentah global melonjak drastis. Pada 2 Maret 2026, harga minyak mentah Brent sempat melonjak hingga 13%, mencapai US$82,37 per barel, level tertinggi dalam 14 bulan terakhir.
Analis memperkirakan harga Brent kemungkinan akan diperdagangkan di kisaran US$80 hingga US$90 per barel dalam jangka pendek selama konflik berlanjut, bahkan berpotensi melonjak hingga US$120 per barel jika konflik berkepanjangan. Menanggapi gejolak ini, aliansi OPEC+ telah menyepakati peningkatan produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari untuk bulan April, sebagai upaya menstabilkan pasar.
Kinerja Saham Energi di Tengah Badai Pasar
Di tengah tekanan yang dialami IHSG, sektor energi menjadi satu-satunya sektor yang ditutup menguat pada perdagangan sesi pertama Senin (2/3). Saham MEDC melonjak 5,80% atau 100 poin, mencapai level Rp 1.825. Kenaikan signifikan juga dialami oleh PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang melesat 14,20% dan PT Elnusa Tbk (ELSA) yang meningkat 7,65%.
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas menyatakan bahwa potensi penurunan IHSG relatif terbatas mengingat besarnya eksposur indeks terhadap saham-saham berbasis komoditas yang dapat diuntungkan dari kenaikan harga energi dan emas. Imam Gunadi, analis ekuitas Indo Premier Sekuritas, menambahkan bahwa harga minyak dan batu bara yang lebih tinggi dapat mendukung sektor energi dan pertambangan Indonesia jika harga komoditas tetap tinggi.
Profil dan Prospek Medco Energi
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) merupakan pemain utama di sektor energi Indonesia, dengan portofolio yang mencakup eksplorasi dan produksi minyak dan gas, ketenagalistrikan, serta pertambangan tembaga dan emas. Saham MEDC sendiri telah mencatat kinerja impresif, mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di level IDR 1.835,00 pada 19 Februari 2026.
Pada Januari 2026, MedcoEnergi mengumumkan target produksi minyak dan gas untuk tahun 2026 sebesar 165.000 hingga 170.000 barel setara minyak per hari (boepd), yang merupakan angka tertinggi dalam sejarah perusahaan. Target ini meningkat dari 156.000 boepd pada tahun 2025. Selain itu, pada 4 Februari 2026, Medco Energi berhasil memperoleh pinjaman sebesar Rp800 miliar dengan tenor 60 bulan dari Bank ICBC Indonesia untuk membiayai belanja modal dan kebutuhan korporasi umum, yang turut mengangkat harga sahamnya sebesar 2,41% menjadi Rp1.490 per saham.
Risiko Inflasi dan Tekanan Rupiah
Meskipun sektor energi diuntungkan, lonjakan harga energi yang berkepanjangan berpotensi meningkatkan risiko inflasi global dan memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah. Imam Gunadi memperingatkan bahwa kenaikan signifikan harga minyak dapat memperlebar tekanan pada neraca transaksi berjalan melalui peningkatan nilai impor minyak dan gas, sekaligus meningkatkan volatilitas rupiah. Jika rupiah melemah dan imbal hasil obligasi global naik, volatilitas IHSG juga dapat meningkat karena investor asing cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko.