Sahur Pertama Ramadan di Pengungsian, Korban Banjir Tapsel Rindu Suasana Rumah

Author Image

Irfan

19 Februari 2026

Foto: Penyintas Bencana Banjir Bandang Sahur Di Pengungsian Desa Batu Hula, Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Kamis (18/2/2026). (antara/khaerul Izan)
Foto: Penyintas bencana banjir bandang sahur di pengungsian Desa Batu Hula, Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Kamis (18/2/2026). (ANTARA/Khaerul Izan)

Tapanuli Selatan – Suasana khidmat menyelimuti para pengungsi korban banjir bandang di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, saat menjalani sahur pertama di bulan Ramadan 1447 Hijriah. Mereka terpaksa menyantap hidangan di tenda darurat, dengan menu yang dimasak di dapur umum posko bencana.

Sejumlah penyintas bencana banjir bandang yang berasal dari Desa Huta Godang dan Garoga tampak mendatangi dapur umum di Posko Bencana yang berlokasi di Desa Batu Hula, Kecamatan Batang Toru. Dengan membawa tempat makan, mereka mengambil nasi dan lauk yang telah disediakan.

Meskipun demikian, sebagian penyintas juga memilih untuk memasak sendiri di tenda masing-masing. Marlan Hutauruk, salah seorang korban, mengungkapkan bahwa sahur kali ini terasa sangat berbeda dibandingkan sebelum bencana melanda. Banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 telah menghancurkan rumahnya, memaksanya menjalani ibadah Ramadan di tempat pengungsian.

“Kalau dahulu lebih nyaman tentunya sebab kami berada di rumah sendiri, sekarang kondisi kami seperti ini,” ujar Marlan saat santap sahur bersama istri dan warga lainnya di pos pengungsian.

Khoiruddin Simatupang, penyintas lainnya, mengaku rindu dengan suasana Ramadan dan kehangatan santap sahur di rumah. Ia telah hampir tiga bulan tinggal di pengungsian sejak bencana terjadi.

“Ini hari pertama kami Ramadan di pengungsian. Kami di sini sudah hampir tiga bulan setelah bencana,” katanya.

Dapur Umum Beroperasi untuk 220 Kepala Keluarga

Posko dapur umum di Desa Batu Hula menyediakan santap sahur bagi 220 kepala keluarga yang kini mengungsi di lokasi tersebut. Penjaga posko dapur umum, Resdi Nasution, menjelaskan bahwa persiapan memasak dimulai sejak pukul 03.00 WIB.

Pada sahur perdana ini, dapur umum menyediakan nasi dan mi instan. Menurut Resdi, sebagian besar penyintas sudah memiliki lauk sendiri, termasuk daging sapi sumbangan yang telah dimasak sehari sebelumnya.

“Sekarang kami menyediakan nasi, sama mi instan, karena yang ada hanya itu,” ungkapnya.

Resdi menambahkan bahwa kesibukan dapur umum kini tidak lagi seramai awal bencana. Banyak penyintas yang sudah memiliki penanak nasi sendiri di lokasi pengungsian masing-masing. Namun, dapur umum tetap beroperasi untuk memastikan ketersediaan makanan bagi mereka yang masih bergantung.

“Kami tetap menyediakan nasi dan lauknya, karena ada juga yang masih bergantung di dapur umum,” ujarnya.

Dapur umum ini bertugas menyediakan makanan bagi 220 kepala keluarga yang tersebar di tiga titik pengungsian, termasuk di tenda biru, tenda putih, dan bengkel milik warga.